Jumat, 03 September 2021

INDSCRIPT CREATIVE AND THE EXTRAORDINARY WOMAN BEHIND

 

Siapa yang belum kenal? Padahal tak kenal maka tak sayang. Saya sendiri tahu Indscript belakangan, karena lebih dahulu mengenal sosok pendirinya. Pada waktu itu kebetulan ada event kelas “Heart Selling on The Spot” di salah satu hotel di Bandung, sekitar bulan Oktober 2016. Wah, lumayan sudah lama ya.

Saat itu saya baru saja melek di dunia kepenulisan. Karena sebelumnya menulis itu hanya sebagai tempat curhat di medsos yang juga baru saya kenal. Ternyata, saya mendapatkan insight bahwa dengan bisa menulis kita bisa makin mudah berbisnis. Sebaliknya, kalau ingin bisnis makin berkembang maka harus bisa menulis. Berbisnis dan menulis menjadi satu paket yang saling melengkapi.

Satu hal yang makin menarik adalah bahwa kedua kegiatan itu ternyata bisa dilakukan fulltime dari rumah, oleh seorang ibu rumah tangga. Hal ini adalah salah satu impian terbesar dalam hidup saya. Ada yang samaan?

Kalau iya, berarti harus lanjutkan mengenali Indscript ini.

 

Indari Mastuti, suatu kebanggaan bisa mengenal pendiri Indscript Creative lebih dekat

 

Berawal dari seorang wanita luar biasa bernama Indari Mastuti, yang menyukai kepenulisan sejak masa sekolah. Sejak tahun 1996, saat masih kelas 1 SMA, ia sudah rajin mengirimkan cerpen-cerpen ke majalah atau koran. Tentu saja sudah ratusan karya yang dimuat.

Bekerja dan berkarir kantoran juga bukan tidak pernah dilakukan oleh seorang Indari Mastuti. Bahkan, sebelum menikah sudah pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi. Menjadi seorang Manager Marketing yang aktif hingga banyak bertugas ke luar kota. Pada saat itu, menulis memang baru merupakan kegiatan selingan di antara pekerjaan kantor. Namun produktivitas menulis ini tetap tinggi, karya yang dihasilkan tetap banyak. Bahkan, pada tahun 2004 akhirnya menelurkan novel perdana. Sejak itulah, Indari Mastuti banyak berhubungan dengan penerbit.

Hingga ketika sudah menikah barulah mulai berpikir bagaimana caranya agar tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang melayani suami dan mengurus anak, tetapi tetap memiliki kegiatan yang produktif dari rumah. Dibangun dengan landasan itulah, maka Indscript selalu mendasarkan semua kegiatannya dikaitkan dengan Ibu Rumah Tangga.

 

Indari Mastuti (foto from profil facebook)



Indscript Creative, kapan dan bagaimana mulai dibangun?

 

Memulai kedekatan dengan penerbit Gramedia, Syamil sejak terbitnya novel perdana di tahun 2004, memberikan ruang lebih leluasa bagi Indari Mastuti untuk melanjutkan kerja sama selanjutnya. Sehingga ketika pada 2007 menikah dan mulai berpikir ingin berbisnis dari rumah, maka pilihan bisnisnya jatuh pada kegiatan yang berhubungan dengan menulis. Bisnis menjadi lebih mudah karena menulis adalah suatu hobi yang disukai. Pada saat itu belum menggunakan brand sebagai Indscript, masih dengan nama sendiri, Indari Mastuti.

 

Mulai menawarkan lebih intens kepada penerbit dan hasilnya malah ditawarkan untuk menulis tema lain yang selama ini tidak biasa atau tidak pernah ditulis. Masya Allah, feedback yang di luar dugaan. Akhirnya pada akhir tahun 2007, dimulailah merekrut penulis untuk dapat membantu memenuhi semua permintaan.

Memasuki awal 2008 barulah mulai dengan nama Indscript Creative. Nama ini diberikan oleh sang suami, Deky Tasdikin. “Ind” artinya Indari, “script” artinya tulisan, dan “Creative” dengan harapan tulisan yang dihasilkan untuk klien ini adalah tulisan yang kreatif. Bahwa tulisan-tulisannya bukan sekadar jadi buku tapi juga harus enak untuk dibaca. Buat teman-teman yang sudah pernah membaca bukunya Indari Mastuti pasti akan mengaminkan. Buat saya bahkan lebih dari itu, tulisan yang dibuat selalu mampu menginspirasi.

 

Bagaimana Indscript Creative berkembang?

 

Pada awal tahun 2007 fokus bisnis masih sebagai agensi naskah, yaitu penyambung lidah penerbit dan penulis. Penerbit-penerbit yang bekerja sama dan sangat loyal hingga sekarang, yaitu Kompas Gramedia, Swadaya, dan Elex Media. Harapannya, jenis usaha ini tetap langgeng. Meskipun dari tahun ke tahun selalu berusaha mengembangkan lini-lini bisnis yang lainnya.

 

Tahun 2010 mulai mengembangkan penulisan biografi. Pada saat itu klien pertamanya adalah Brownies Amanda. Terus bertambah dari mulai Teh Ninih, ibu Siti Oded, ibu Atalia Praratya, bahkan ekspatriat Jepang. Target khususnya adalah memang pejabat-pejabat dan pengusaha kelas kakap, karena jasa penulisan biografi ini tidaklah murah. Bisa dipatok hingga 120 juta per satu project buku. Wow, harga yang cukup menggiurkan untuk menjadi seorang penulis, ya?

 

Selain itu, sejak tahun 2015 mulai mengerjakan juga direct selling. Dasar pemikirannya adalah, apa kira-kira yang bisa menghasilkan secara masif dan setiap hari? Sedangkan project buku biasanya berdasarkan kontrak atau per-bulan. Produknya ada bermacam-macam, seperti “Board Media Pencapaian Target”, “Board Mimpi”, dan lain-lain. Saat ini sudah ada sekitar 10.000 reseller yang berada di bawah jaringan Indscript.

 

Foto taken from google image



Bagaimana Indscript Creative bertahan di tengah badai pandemi?

 

Tahun 2020 pada saat pandemic, Indscript malah membuat percetakan sendiri. Dari karya Indari Mastuti sendiri atau penulis-penulis lain yang ingin mencetak buku.  Sehingga bukan lagi hanya sebagai agensi naskah, namun sudah berkembang menjadi percetakan dan publisher. Buku-buku yang ada di Indscript saat ini idak hanya melalui kerjasama dengan penerbit, tetapi sudah mulai lengkap mulai dari menulis, mencetak, menerbitkan dan mendistribusikan sendiri.

 

Bahkan, di tahun 2021 ini sudah berkembang menjadi agensi blogger, yaitu sebagai penyambung lidah antara perusahaan dengan para blogger. Serta yang terkini juga mengembangkan platform marketplace khusus untuk perempuan dengan nama Terhubung.co.id dan membuat channel YouTube “Rumah Teh Iin” yang akan menjadi cincin dalam dunia pernikahan. Isinya berbicara atau mengupas dengan sang suami tentang dunia pernikahan. Silakan langsung saja cari tahu kalau penasaran, ya.

 

Unforgetable moment buat Indscript Creative

 

Tahun 2007 membangun bisnis dan berkembang sangat pesat tetapi kurang dibarengi dengan ilmu, sehingga mengalami bangkrut di tahun 2010. Dari 16 karyawan menjadi tinggal 3 orang saja yang tersisa.

Namun kejadian ini menjadi titik balik kesadaran bahwa bisnis itu butuh ilmu. Sejak saat itu Indari Mastuti mulai belajar mentoring, ikut coaching, mulai membangun networking sampai mendapatkan akses-akses yang luar biasa untuk pembelajaran. Hingga hari ini menjadi sangat paham bahwa segala sesuatu itu butuh ilmu.

Layaknya sebuah bisnis, pasti akan mengalami pasang surut. Terjatuh itu sudah biasa, yang sulit adalah mempertahankan keinginan untuk selalu bangkit. Momen inilah yang mendorong semangat belajar Indari Mastuti untuk terus bergerak.

 

Harapan Indscript Creative di masa depan

 

Bagi Indari Mastuti, harapan ke depan akan selalu kembali kepada sejarah, yaitu ingin menjadi ibu rumah tangga yang produktif dari rumah.

Karena itu, Indscript Creative harus menjadi perusahaan yang membuat produktivitas perempuan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Visinya adalah melahirkan 1 juta penulis dan 1 juta pebisnis.

Semoga, saya dan teman-teman bisa jadi bagian di sana, ya. Aamiin.

 

 

Minggu, 12 Januari 2020

WISUDA STTBANDUNG XIV TAHUN 2020 HARUS BISA MENJADI LOMPATAN GLOBAL

Wisuda bukan sekedar seremonial, tapi harus menjadi lompatan lebih jauh yang lebih global.
"Lulusan STTB tidak boleh hanya sekedar jago kandang dengan hasil-hasil karyanya, tapi kandangnya ya harus dunia ini" begitu kata Prof Ilham Habibie dalam wawancara dengan media ketika menjadi keynote speaker pada acara Wisuda XIV STTBandung pada tanggal 11 Januari 2020 di Hotel Harris Convention Hall kemarin.

Sumber dari Instagram STTB


Kalimat ini buat saya menjadi inspirasi yang bisa merangkum seluruh rangkaian acara panjang sejak pagi hingga siang hari itu. Bagaimana semangat mereka sangat terlihat di wajah-wajah segar yang tak sabar menanti di pintu masuk convention center ketika saya pun harus datang lebih pagi dari mereka supaya bisa meliput lengkap seremoninya.

Diawali pemandangan di depan hotel. Terlihat banyak keluarga ikut mengantar. Mereka sampai rela duduk atau berdiri sepanjang pintu lobby hotel hingga ruangan sebelum pintu masuk convention center yang menjadi tempat acara wisuda. Sepertinya bukan hanya ayah dan ibu. Ada juga keluarga besar yang ikut mengantar. Demi apa? Tentunya demi menunjukkan kebanggan pada satu sosok yang disebut sebagai wisudawan.

Pedagang bungapun ikut menyambut mereka. Tak hanya sekedar ikut meraup keuntungan berjualan, tapi esensinya juga tetap terasa kok. Keluarga seperti diingatkan untuk ikut menyampaikan ucapan selamat dan kebahagiaan itu dalam bentuk buket bunga.  Malah tidak hanya itu. Simbol kebanggan dan sayang kepada anak, kakak, adik, atau bahkan pasangannya, bisa juga dalam bentuk buket boneka atau permen. Ada-ada saja idenya. Tapi yang penting semua ikut bahagia, ya...

Pemandangan berjejalan berlanjut ketika saya baru saja keluar dari pintu lift. Orang tua dan wisudawan harus rela menunggu sebelum pintu masuk dibuka security karena tempatnya masih dalam persiapan. Beruntung saat itu saya bukan bagian dari mereka. Sebagai blogger, Alhamdulillah langsung dipersilakan masuk.

Hal ini menambah inspirasi untuk tidak hanya menyampaikan liputan acara ketika berlangsung di dalam gedung. Buat saya, justru suasana sebelumnya ini menjadi pengantar yang menguatkan acara itu sendiri. Tanpa antusiasme dari mereka, maka acara wisuda akan hambar. Berjejalan menjadi semacam hype acara wisuda ini. Jadi sama gejolaknya ketika kita akan menuju konser idola yang ditunggu-tunggu.

Ada ketidaksabaran ingin segera larut dalam seremoni megah yang selalu berhasil membuat air mata meleleh tanpa sadar. Setelah puluhan tahun berlalu, suasana wisuda sayapun turut hadir dalam hati.

Para wisudawan tentu bangga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan yang telah ditempuh. Orang tuapun lebih bangga karena akhirnya seperti di penghujung beban yang berat sebelum bisa melepas secara mandiri anak yang sudah dikandung dan dibesarkan dari kecil. Saatnya berbahagia karena sebentar lagi mereka bisa mewujudkan segala mimpi menjadi nyata.

Bukan hanya mimpi jadi sarjana. Tapi mimpi setelahnya. Mau jadi seperti apa kelak?  Bekerja, berkarir, atau memilih berwirausaha? Memilih bekerja di kota tempat tinggal atau justru merantau,  bahkan hingga ke luar negeri? Sungguh lebih terbuka semua peluang jika sudah menyelesaikan pendidikan formal. Meskipun tidak selalu jadi patokan.

Pada pidato pembukaan,  Ketua STTB Muchammad Naseer, S.Kom, M.T. sempat menyampaikan begitu banyak prestasi yang diraih mahasiswa selama di tahun 2019 ini.  Bahkan prestasi hingga di mancanegara. Ini patut menjadi kebanggaan anak negeri. Karena bisa membuktikan, bahwa sekolah ini mampu melahirkan kecerdasan-kecerdasan yang masih seringkali diperbandingkan dengan sekolah negeri. Padahal pada kenyataannya mereka pun mampu meraih prestasi yang tak kalah membanggakan negara Republik Indonesia di mata dunia. Semoga semakin bersaing secara global.

Hal ini dikuatkan oleh orasi ilmiah dari Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie. Salah satunya adalah statement bahwa Education is Key. Ini menjadi penanda bahwa sebuah kecerdasan akan bisa semakin teraplikasikan jika ada wadahnya. Belajar memang tak terbatas waktu, tapi menuntut ilmu secara formal tetap akan ada masanya. Sehingga memanfaatkan kesempatan menjadi sangat penting.

Menjadi manusia yang adaptif, mampu mengikuti setiap perkembangan teknologi. Terutama teknologi 4.0 yang akan semakin mempermudah langkah untuk lebih maju. Segala bidang akan dipermudah karena terkait dengan sistem informasi yang terintegrasi. Salah satunya melalui studi secara formal. Apapun bidangnya, dibekali dengan ilmu yang mumpuni akan semakin optimal dalam aplikasi di dunia nyata.

Sumber : Pasukan Blogger Joeragan Artikel

Yang mana aplikasinya tidak hanya cukup di lingkungan akademik. Tapi harus mampu juga berguna secara global alias mendunia.

Sejalan dengan hal tersebut, itu pula yang disampaikan dalam Kesan dan Pesan dari salah satu mahasiswa terbaik TI, Dheyu Laksmi Wulandari, S.T.. Kuncinya adalah ASK. A untuk attitude. S untuk Skill. K untuk knowledge. Menjadi sukses harus diawali dengan sikap yang baik dan bersahaja. Mau menerima setiap masukan positif untuk menjadi lebih baik. Lanjut dengan semangat untuk selalu mau mengasah kemampuan dan keterampilan agar semakin lama lebih menguasai hingga dapat dipercaya. Sambil tak ketinggalan, yang tak kalah penting adalah melengkapinya dengan ilmu pengetahuan sehingga tidak salah arah.
Sumber : Pasukan Blogger Joeragan Artikel

Sebagai penutup, tak lupa saya ucapkan selamat atas wisuda 209 orang lulusan STTB yang ke XIV di tahun 2020 ini. Di mana 113 orang dari mereka adalah berasal dari jurusan Teknik Industri, 70 orang jurusan Teknik Informatika, dan yang paling baru 26 orang lulusan dari jurusan Desain Komunikasi Visual. Semoga jumlah lulusan ini tidak hanya menjadi angka yang makin banyak di tahun berikutnya. Suatu saat nanti semua lulusan STTBandung ini mampu menunjukkan karir gemilang  Menjadi pemimpin kebanggaan orang tua, kebanggaan kampus, dan kebanggaan seluruh negeri di masa depan.


Minggu, 20 Januari 2019

Menuju Bahtera Ikhlas, sebuah buku renungan hati

Sebuah proses kehidupan yang tak mudah dilakukan adalah ikhlas. Menerima semua ketetapan dari Sang Maha Pencipta, meskipun pahit dirasa.

Ya, tidak semudah mengatakannya. Butuh jalan panjang untuk menemukan eksistensi diri sebagai hamba yang patuh hanya kepada perintah Allah Subhanahuwata'ala sebagai pencipta manusia. Tidak ada keyakinan lain, bahwa yang terjadi penyebab suatu perkara adalah suratan takdir yang sudah tertulis di lauful mafuz sejak ribuan tahun lalu.

Bahkan, terkadang tidak cukup hanya menafakuri diri. Butuh masukan dan dorongan dari orang lain supaya kita tetap istiqomah dalam pilihan atau keyakinan baik. Termasuk sebuah tulisan. Banyak orang menjadi hijrah karena sebuah tulisan yang membawa kepada muhasabah diri.

Demikian pula yang ditulis seorang Santi Rosmala. Mengalami pasang surut dan hantaman gelombang kehidupan, menjadikan dirinya banyak merenungi mana nilai yang harus tetap teguh dipegang mana yang seharusnya dilepaskan. Bukan tak pernah goyah, justru kegalauan-kegalauan malah mendorongnya membuahkan pikiran yang semakin positif.

Memiliki bisnis Rosmala Syar'i, seorang Santi tak pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri agar kemampuannya terus meningkat. Tidak hanya yang berkaitan langsung dengan bisnisnya, yang jauh lebih penting bahkan adalah pengembangan soft skill. Melatih diri berjejaring di lingkungan pebisnis. Melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan banyak orang. Termasuk juga melatih diri dalam kemampuan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk tulisan.

Hingga pada tanggal 10 Januari 2019 yang lalu, bertempat di The Palace Jeweler - Trans Studio Mart Bandung, telah resmi luncur buku yang tak hanya cantik covernya, tapi isinya juga syarat makna untuk manusia yang ingin belajar menguatkan diri menjadi lebih ikhlas. "Menuju Bahtera Ikhlas", bukan hanya membuktikan bahwa Santi bukan hanya mampu menulis, tapi membuahkan karya tulis. Padahal selama ini banyak yang meragukan bahkan merendahkan (membully).

Masya Allah... Allahu Akbar... Hanya dengan mengembalikan semua pada Sang Maha Pemberi Takdir, launching buku kali ini bukan sekedar membuktikan kemampuan membuat buku. Tapi juga kolaborasi yang sangat apik di antara para pebisnis.

The Palace Jeweler adalah bukan tempat sembarangan. Menyediakan perhiasan mewah dengan konsep design dari desainer terkemuka. Kalau kata managernya, sekarang musimnya 'beauty investment'. Investasi menguntungkan sekaligus membuat cantik karena sekaligus bisa dipakai.

Tidak akan mungkin launching buku sekaligus fashion and jewel show jika bukan karena kerjasama yang erat di belakangnya. Sehingga yang hadir tidak hanya mendapat kesempatan memiliki buku, tetapi juga disuguhi performa mewahnya berlian dan pakaian syar'i yang dikenakan para model. Yang meskipun dadakan tapi tampil cantik dan percaya diri. Salut untuk karya-karyanya.

Itu semua karena dipupuk dari hubungan baik antara Santi Rosmala, sang penulis buku, dengan jaringan bisnisnya. Mereka semua saling support. Termasuk sajian makanan dan minumannya. Para undangan benar-benar terpuaskan.

Bravo teh Santi Rosmala. Semoga bukunya mampu menembus manfaat sebanyak-banyaknya orang. Sebagaimana berlian yang berawal dari karbon, namun karena tempaan waktu ratusan bahkan mungkin ribuan tahun, mampu berubah menjadi intan berlian yang bercahaya indah. Seperti itulah dirimu...

Minggu, 09 Desember 2018

Wisuda XIII Sekolah Tinggi Teknologi Bandung : The Journey Has Began

"Wisuda atau kelulusan bukan akhir dari perjuangan, tapi sebagai awal untuk memberikan lebih banyak manfaat untuk orang banyak"

Kira-kira seperti itu nasihat yang disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB), Bapak Muchammad Naseer, S. Kom, M.T. untuk wisudawan-wisudawati yang baru dilantik hari Sabtu tanggal 8 Desember 2018 kemarin di Convention Hall Hotel Harris Jl. Peta Bandung.

Sungguh sangat mengena, sebab perjalanan yang sesungguhnya dalam mengabdi kepada lingkungan dan masyarakat baru akan dimulai. Tidak hanya untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat, tetapi juga mengenalkan kepada dunia tentang keberadaan STTB itu sendiri. 

Sebagai mantan mahasiswa era tahun 1990an saya kurang familiar dengan sekolah tinggi ini. Baru berdiri di bulan Oktober 1991, saat itu mungkin STTB kurang termasuk dalam pilihan favorite lulusan SMA. Saya pribadi baru mulai mengenal STTB setelah beberapa kali melakukan liputan kegiatan yang dilakukan. Salah satunya Selisik 2018 di bulan September 2018 lalu.

Cukup beruntung saya lagi-lagi mendapat undangan sebagai blogger di acara yang diselenggarakan oleh STTB. Kali ini acaranya Wisuda XIII STTB. Perhelatan ini akan menjadi sebuah pesta seremonial yang sangat istimewa, saya pikir. Diselenggarakan di Convention sebuah Hotel, tentulah terasa megah dan mewah. 

Nyatanya memang sangat istimewa. Bukan hanya kemewahan yang ditampilkan, tapi juga sangat khidmat dan penuh kharisma. Tidak hanya dihadiri wisudawan-wisudawati dan para orang tua, acara ini dihadiri pula oleh orang-orang penting di STTB. Pimpinan, pengurus, serta dosen-dosen.

Diawali dengan tarian Sunda sebagai pengantar sebelum pembukaan, untuk selanjutknya acara dimulai dengan seremoni penyambutan pimpinan civitas akademika. Diiringi lagu dari paduan suara, sepertinya selalu berhasil menggugah rasa kebanggaan.

Setelahnya, dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua STTB, Bapak Muchammad Naseer, S. Kom., M.T. Beliau tidak hanya sekedar menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan, beliau juga memaparkan banyak hal tentang STTB yang patut diketahui calon mahasiswa nantinya. 

Bahwa sejak berdirinya tahun 1991 lalu, STTB sudah meluluskan 1355 mahasiswa. Namun, untuk hari ini saja ada 183 mahasiswa, 106 orang dari jurusan Teknik Industri, 77 orang dari Teknik Informatika. Sungguh pertumbuhan yang signifikan akhir-akhir ini. 

Selain itu, beliau menyampaikan sebuah misi untuk semakin mengembangkan STTB. Bahwa dari 120 dosen yang ada, saat ini 96% adalah sudah lulus S2. Namun, tahun 2019 targetnya adalah 70% lulus S3. Harapannya, tentu saja agar ilmu dan teknologi selalu saling berkejaran dan tidak pernah ketinggalan untuk diaplikasikan.

Buktinya, dari hasil penelitian tentang alumni STTB, disimpulkan bahwa hanya butuh 45 hari saja bagi mereka untuk bisa tetap produktif. Pilihannya, melanjutkan kuliah (beasiswa), bekerja pada perusahaan, atau berwirausaha. Sungguh menunjukkan bahwa lulusan STTB sudah terjamin kemana langkahnya akan menuju di masa depan.

Saya pribadi mulai berpikir bahwa STTB ini bisa menjadi alternatif pilihan sekolah untuk anak saya yang memang sangat berminat pada komputer dan teknologinya. 

Acara dilanjutkan dengan pelatikan 183 wisudawan. Kemudian sambutan dari perwakilan mahasiswa Tina Sri Handayani, S. Kom., seorang difabel yang mampu berprestasi di Olimpiade Paralympic Daerah 2018 lalu, dengan mengantongi 3 medali sekaligus. Tak ketinggalan janji wisudawan yang dipimpin oleh Muhammad Satria, S.T. sebagai Ketua BEM di masa aktifnya. 

Selain itu pemberian penghargaan kepada mahasiswa terbaik dari masing-masing jurusan. Juga skripsi terbaik yang diwakili 4 orang dari setiap jurusan. Sungguh suatu kebanggan untuk orang tua yang ikut mendampingi mereka.

Sebelum penutupan, sempat juga pemaparan orasi ilmiah dalam bahasa Inggris dari alumni yang saat ini berkarir di Perusahaan Airbus. Seperti biasa, tentu saja orasi ini bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada generasi penerus untuk juga bisa berkarya dan mengembangkan ilmu supaya lebih aplikatif dan berdaya guna di perusahaan atau masyarakat. 

Acara hiburan pun tak terlewatkan. Angklung dan paduan suara sungguh membuat suasana bahagia semakin terasa. Semua wajah berseri dan bergembira dengan kelulusan sebagai mahasiswa, dan berubah nama menjadi alumni Sekolah Tinggi Teknologi Bandung.

Semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud ya. Sebagaimana catatan kecil yang ingin saya sematkan di sini...

"Meraih bintang tak selalu harus di langit. Kamu bisa menggambarnya di awan mimpimu sendiri"

Be succes!

Be your own value!

#wisudaXIII

#sttbandung



Minggu, 02 September 2018

Seminar Telekomunikasi dan Informatika SELISIK 2018

Memahami Lebih Lengkap Sumber Daya Manusia yang Siap Menghadapi Industri 4.0

Luar biasa beruntungnya saya jadi lebih paham apa yang dimaksud Making Indonesia 4.0. Itu ungkapan yang melintas di kepala saya ketika akhirnya bisa hadir dalam Seminar Telekomunikasi dan Informatika alias SELISIK 2018, yang dihadiri akademisi dan mahasiswa. Kali ini mengambil judul "Menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk Menghadapi Industri 4.0".

Diselenggarakan di Hotel Harris Festival Citylink Bandung pada tanggal 1 September 2018. Melanjutkan Diskusi Publik sebelumnya, STTBandung sebagai bagian dari Perguruan Tinggi tampaknya sangat nyata ingin ikut di dalam mempersiapkan kompetensi Sumber Daya Manusia. Sehingga, khususnya lulusan dari Perguruan Tinggi ini kelak tidak hanya bermodalkan ilmu, wawasan dan hasil riset, tetapi juga mampu mengintepretasikannya dalam bentuk produk yang bernilai jual, sebagai bagian dari bisnis atau industri itu sendiri.

Menurut Bapak Muchammad Naseer, pada sambutan pembukaan sebagai pimpinan STTBandung, bahwa platform penelitian Perguruan Tinggi saat ini ditantang untuk bisa menerjemahkan semua roadmap Making Indonesia 4.0. Namun, kunci keberhasilannya tentu saja tetap pada adanya hubungan yang harmonis dalam siklus yang berkesinambungan, baik dari pemerintah, pelaku industri, Perguruan Tinggi dan juga masyarakat. Maka, Making Indonesia 4.0 tidak hanya akan berhenti sebagai konsep, melainkan perubahan mind set (cara berpikir) dan action (tindakan) dari semua kalangan.

Sempat diselingi siraman rohani dari Prof. Ing. Iping Supriana Suwardi, Guru Besar dari ITB. Beliau mengingatkan kita bahwa Industri 4.0 ini pada dasarnya adalah pemahaman yang baik terhadap komputer dari Sumber Daya Manusianya. Dimulai dari, apakah itu Algoritma? Berasal dari Al Khawarizmi, seorang ilmuwan muslim yang mengelola data raksasa, dengan cara membagi-bagi. Bagaimana memahami sel dalam memproduksi sel? Bagaimana memecahkan persoalan berdasarkan bagian per-bagian.

Maka, dasar ini yang bisa digunakan utk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Yaitu dengan mengingat kepada nilai fundamentalnya. Bahwa mahluk hidup pun tercipta dari banyak sel seperti algoritma. Sehingga, memahami komputer sama dengan memahami manusia, sebagai mahluk hidup yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Dengan demikian, mempelajarinya harus memiliki landasan bukan hanya pada akal tetapi juga pada rohani atau keimanan. Manusia tetap menjadi Imam atau Khalifah atas teknologi. Jangan sampai mendewakan teknologi dan melupakan landasan agama dalam pengembangan atau pemanfaatannya.

Dilanjutkan dengan penyampaian materi yang segar dari Bapak Priyantono Rudito, Ph.D. Beliau adalah Tenaga Ahli Mentri Pariwisata Republik Indonesia. Pantas saja kepiwaiannya berkomunikasi sangat terasa. Menyampaikan materi yang cukup serius menjadi sangat asik untuk diikuti. Kali ini, dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia menghadapi Industri 4.0, beliau mengusung konsep "DIGITAL MASTERY". Dengan metode 3 C (Context, Concept, Dan Content), peserta dibuat mampu menyerap materi yang dipadatkan, dari seharusnya 4 jam menjadi 50 menit saja.

Dimulai dari strategic context, kita harus pahami dua hal. Pertama, bahwa "We are truly living in digital era". Sadari dan terima bahwa kita tak dapat menolak untuk hidup di era digital. Kedua, bahwa setiap perubahan era itu terjadi "Lebih cepat dari yang diperkirakan". Kita tidak dapat menahan laju masuknya era digital dan perkembangannya.

Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ada yang memacunya. Ada 6 hal yang dianggap sebagai digital steroids, yaitu :
1. Board brand access
2. Internet
3. Open Source
4. Application
5. Social media
6. Smart gadget

Sederhananya, mencari informasi apapun sudah tinggal 'klik'. Termasuk kebutuhan ibu-ibu untuk menyediakan masakan di rumah sekalipun. Ibaratnya sudah tidak butuh pisau dan peralatan dapur lagi. Sebab, tinggal 'klik' aplikasi di Hand phone, makanan sudah bisa diantar di depan mata (aka. By Go Food). Waaahh... Pak Priyantono sempet mengecoh saya. Saya pikir ada alat lebih canggih yang bisa memasak instan dari sekedar Microwave atau panci pressto. Ternyata, Industri 4.0 bukan hanya sampai di situ. Produk yang dihasilkan adalah sesuatu yang intinya memudahkan kegiatan manusia. Di sinilah revolusi terjadi. Dari revolusi teknologi bisa langsung berakibat pada revolusi ekonomi pula.

Namun, pada prinsipnya tetap bahwa "Digitalisation is the new normal toward Industry 4.0". Artinya, yang dihasilkan adalah tidak selalu hal yang benar-benar baru. Hanya mengubahnya menjadi 'Disruptive Product' alias menawarkan value yang tidak dapat ditolak oleh customer. Contoh yang paling relevan saat ini, hampir semua orang sudah beralih dari sekedar SMS ke platform Whatsapp. Kenapa? Karena value yang ditawarkan nyata diperlukan oleh semua kalangan.

Tinggal tugas akhirnya adalah pada strategic challenge, bagaimana cara mentransformasi digital informasi itu? Menurut Pak Priyantono harus "Going from BEST to NEXT PRACTICE". Jadi, bukan berakhir pada menghasilkan yang terbaik lagi, tetapi bagaimana membuka hambatan dari dalam diri supaya bisa menghasilkan sesuatu untuk ke depan (bukan sekedar hari ini).

Bagaimana caranya? Sejalan dengan yang disampaikan Pak Iping sebelumnya,  ternyata tetap meyakini bahwa Human Capital adalah core dimensi dari tranfsormasi digital yang sangat multidimensi ini. Digital Leadership yang berasal dari kemampuan kepemimpinan sebagai manusia yang alami, dikuatkan dengan Digital Attitude dan Digital Culture. Salah satu bentuknya adalah kreativitas dan inovasi yang tanpa henti, akan mengasilkan Business Performance yang terbaik.

Hanya saja, yang tak boleh diabaikan bahwa kunci untuk memperlancar industri 4.0 adalah kolaborasi antar generasi. Pemikiran baru dan out of the box karena belum banyak beban dari generasi millennial, didukung kebijakan dan otoritas dari generasi industri sebelumnya, tentu akan makin memudahkan sebuah ide bisa langsung dieksekusi.

Penutup dari Pak Priyantono, bahwa target Sumber Daya Manusia yang akan dibangun adalah bukan lagi sekedar di kuadran 1 sampai 4 dari Digital Capability dan Digital Leadership, tetapi loncat pada kuadran 9, yaitu yang Rahmatan Lil Alamin. Tujuannya bukan lagi untuk bisnis, tapi untuk kebaikan. Salah satu contohnya adalah Mark Zuckerberg yang mengembangkan Facebook bukan untuk bisnis, tetapi untuk memudahkan orang-orang untuk saling terhubung. Kenyataannya, nilai bisnisnya bukan mengalami perkembangan 100% tapi malah ribuan %. Luar biasa, bukan?

Melengkapi materi seminar hari ini, Bapak Prof. Suyanto, Rektor Universitas Amicom, memaparkan banyak contoh real dari persiapan Human Capital Development In Industry 4.0. Beliau membagikan banyak pengalaman dari mahasiswa-mahasiswanya yang tidak lagi berada pada pengembangan kemampuan sebagai professional, scientists, dan entrepreneur. Tetapi menurut beliau harus disempurnakan dengan pengembangan kemampuan sebagai artists, custumers, dan ecosystemparticipants. Sehingga, pada saat menjadi mahasiswa saja mereka sudah mampu produktif.

Kenapa bisa begitu? Karena menurut beliau, generasi sekarang mampu melakukan beberapa hal berbarengan alias multitasking. Kondisi ini yang harus dimanfaatkan dengan optimal, supaya tidak ada yang tertinggal dari Industri 4.0.

Mau ikut terbawa menjadi manusia Industri 4.0 atau terlibas di belakang? Pilihan ada di tangan anda. Saya sih sudah siap-siap jadi #Mom4.0. yang kepo sama teknologi. Masa kalah sama emak-emak kaya saya?

Selasa, 21 Agustus 2018

Making Indonesia 4.0, Konsep Yang Mungkin Diwujudkan?

Making Indonesia 4.0, Konsep Yang Asal Bapak Senang atau Nyata Diwujudkan?

Sebelum hadir di acara Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Bandung yang dipimpin Muchammad Naseer bekerja sama dengan Kementrian Perindustrian RI, berjudul "Penyiapan Sumber Daya Manusia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0", saya sempat berpikir skeptis. Apa iya, pemerintah bakal memikirkan juga solusinya jika ada dampak nyata dari pergeseran manusia oleh mesin cerdas? Kita semua kan sangat paham apa arti dari revolusi industri? Dan apa yang menjadi akibatnya nanti?

Pemerintah memang sudah mencanangkan dan membuat roadmap untuk merealisasikan Revolusi Industri 4.0 dunia dalam konsep yang lebih membumi nusantara, yaitu Making Indonesia 4.0. Bahkan sudah dimulai sejak Juli 2018 lalu.

Tinggal aplikasinya, kira-kira Sumber Daya Manusia yang ada atau yang akan datang bakal mampu mengikuti perubahan ini atau malah tergilas industri cerdas?

Pertayaannya buat saya sih sederhana? Ketika si cyber machine menggantikan 10 menjadi 3 orang saja untuk sebuah proses produksi, lalu ke manakah 7 lainnya akan disalurkan?

Ternyata kekuatiran saya terjawab. Semuanya dibahas tuntas dalam diskusi yang disampaikan 6 narasumber pada tanggal 20 Agustus 2018 di The Parlor, Dago atas, Bandung. Meskipun waktunya terbatas, tapi apa yang disampaikan mereka cukup "exactly according to the point" di bidangnya masing-masing.

Seperti kutipan dari beberapa narasumber berikut. Menurut bapak Prof. Suhono Harso Supangkat, Guru Besar Institut Teknologi Bandung, bahwa dengan kolaborasi semua pihak maka Making Indonesia 4.0 akan bisa berjalan sesuai rencana. Alias tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. 

Salah satu konsep yang akan dikembangkan dari universitas adalah Maker Space. Yaitu sebuah wadah online yang akan mempertemukan antara penghasil ide sebagai produsen dengan pengguna. Cara kerjanya tidak beda jauh dari aplikasi Taksi Online. Cukup kerenlah, ya. Buktinya, si Taksi Online saja bisa menghasilkan komoditi ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang banyak, meskipun masih dianggap ilegal.

Secara, konsekuensi dari revolusi industri 4.0 ini adalah digitalisasi. Semua harus serba digital. Maka, informasi apapun akan ditangkap robot persis sama seperti respon manusia. Dan kita, harus mau ikut di dalamnya.

Sebelumnya, bapak Mujiyono, Kepala Pusdiklat Industri dari Kementrian Perindustrian menyatakan masih butuh banyak Sumber Daya Manusia kompeten yang bisa mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri. Artinya, tak perlu kuatir ada angkatan kerja yang tidak kebagian lahan pekerjaan.

Hanya saja, PR yang paling berat adalah, mampukah sekolah atau perguruan tinggi menghasilkan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kemampuan vokasi atau siap pakai? Bukan hanya menonjolkan pada nilai-nilai akademis saja. Sayangnya, dari 200 juta penduduk yang ada, baru 5% saja perguruan tinggi yang menyediakan jurusan vokasi sesuai kebutuhan industri. Alhasil, Kementrian Industri harus mengonsep sendiri program "Link and Match".

Konsep "Link and Match" ini padahal bukan sesuatu yang baru. Pernah dicanangkan juga pada masa kementrian pak Wardiman. Sayangnya tidak berhasil efektif atau tidak dilanjutkan dengan serius. Akibatnya, hari ini kita masih harus bekerja keras mengejar banyak ketinggalan. 

Salah satunya adalah dengan mengikatkan kerjasama antara pelaku industri dengan SMK yang sesuai kebutuhan mereka. Dari 13.000 an, sudah sekitar 1700 SMK terikat kontrak kerjasama dengan industri. Dengan demikian, kurikulumnya pun disesuaikan. Kompetensi yang dibutuhkan di manufaturing diterapkan di SMK dimaksud.

Sebaliknya, murid tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga praktek langsung di manufakturing agar bisa menguasai penggunaan mesin yang pas dengan kebutuhan. Ini yang dinamakan "Dual System". Bukan yang tertinggal dua dekade, seperti yang masih banyak ditemui.

Hingga, pada sesi terakhir yang paling menarik perhatian adalah yang disampaikan bapak Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif dan Pengamat Ekonomi dari EconAct, maka kemajuan teknologi ini tidak untuk menggilas Sumber Daya Manusia yang tertinggal, tapi harus bisa menyejahterakan. Meskipun pergeseran manusia oleh mesin pintar adalah sebuah keniscayaan, tapi tetap harus meningkatkan daya hidup manusia itu sendiri.

Kalau sudah begini, apalagi yang ditakutkan dari sebuah revolusi industri? Bukan ketidakmampuan yang akan menggeser keberadaan manusia oleh robot pintar, tetapi ketidaksiapan untuk selalu meng-upgrade diri.

Agree?

Kalau saya sih iya bangeet...

#DiskusiPublikIndustri

#MakingIndonesia4

#Industri4

#Kemenperin

#STTBandung

Rabu, 18 April 2018

Mengais Rejeki di Jalan, Nyawa Taruhannya

Siapa bilang bekerja independen itu paling enak? Iya, enak karena tidak ada yang memberi perintah. Tidak sebagai bawahan, tidak juga sebagai atasan. Semua tugas dilakukan sendiri dengan tanpa batasan waktu. Kecuali target.

Siapa bilang menjadi self employee itu menyenangkan? Iya, menyenangkan jika bisa mengatur waktu dan pendapatan sesuai target, bahkan kalau perlu melampaui. Itulah nikmatnya bekerja sendiri. Hasilnya pun akan dinikmati sendiri.

Menjadi supir taksi online atau ojek online adalah salah satu profesi yang beberapa tahun terakhir ini menjadi pilihan yang paling dicari. Bukan hanya pengangguran, bahkan para pegawai setingkat manajer pun ikut tergiur. Mereka percaya, profesi ini sanggup memberikan lebih banyak penghasilan dibandingkan gaji kantoran.

Mungkin saja benar. Apalagi pada tahun-tahun awal perkembangannya. Permintaan di lapangan jauh lebih besar dibandingkan unit yang tersedia. Dengan kata lain, supir transportasi online tidak pernah kehabisan order. Penghasilan mereka bisa mencapai 2-3 kali gaji pegawai kantoran. Sungguh menggiurkan memang.

Tapi, tahukah bahwa resiko di jalanan pun tidak sedikit. Bahkan, nyawa menjadi taruhannya. Apa saja resikonya?

*Waktu Istirahat Yang Kurang Diperhatikan*

Asik dengan kesibukan memenuhi permintaan trip dari penumpang, seringkali membuat supir lupa pada waktu istirahat. Tubuh yang lelah diabaikan demi mencapai target penghasilan

*Resiko dari Kejahatan*

Pada setiap situasi, peluang kejahatan memang selalu ada. Namun, berada di jalanan terutama malam hari, membuat supir transportasi online menjadi lebih sarat resiko mengalami kejahatan. Beberapa kasus bahkan menunjukkan adanya usaha perampokan hingga pembunuhan oleh sang pelaku. Oleh karena itu, kewaspadaan sangat diperlukan.

Itulah kenapa memiliki komunitas atau grup sesama supir sangat diperlukan. Dengan komunikasi dan saling bertukar informasi bisa mengeliminasi resiko adanya kejahatan yang ekstrim.

*Bentrok Dengan Sesama Supir Transportasi Non-Online*

Hal ini seperti masalah sepele. Hanya karena dianggap mengambil jatah penumpang di suatu wilayah, seringkali harus bersitegang dengan supir angkot atau ojek pangkalan. Bahkan, tak sedikit cerita pemukulan dan pertumpahan fisik di antara mereka. Sungguh miris. Sama-sama mencari rejeki untuk keluarga, tapi kenapa harus sampai hilang akal.

Apakah karena pemahaman yang kurang ataukah memang perlu sosialisasi tentang hal ini kepada masyarakat? Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap situasi yang tidak aman ini? Yang kami tahu, masyarakat pengguna pun jadi merasa tidak nyaman.

Kalau sudah tahu resiko ini, kira-kira masih berani untuk jadi pejuang aspal di jalanan? Don't worry ya, berusaha untuk selalu mengikuti aturan dan waspada, itu yang penting. Selebihnya, kita berserah diri pada Sang Maha Kuasa.

Selamat bertugas buat para pejuang keluarga. Tetap semangat...

#salamsatuaspal