Sabtu, 22 Agustus 2026

Mengelola sampah mandiri di rumah, untuk mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia

Baru saja selesai baca siaran pers tentang “Bank Sampah Induk Bersinar Targetkan 1.000 Bank Sampah Unit untuk Mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia”. Jadinya langsung terpikirkan, bagaimana ya caranya, supaya bisa mendukung program baik ini?

Bayangkan, kalau setiap rumah sudah bisa menjadi bank sampah mandiri sebelum menyalurkan sampah sebenarnya ke petugas atau wadah khusus yang memang menampung sampah dari masyarakat. Contohnya seperti Bank Sampah Unit sebagai kepanjangan dari Bank Sampah Induk Bersinar yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung. Pasti tujuan ekonomi sirkular Indonesia akan lebih mudah tercapai.

Tanpa menunggu lama, Emak langsung mencari tahu, adakah Bank Sampah Unit terdekat dari rumah? Ternyata ada, bahkan masih bertetangga satu Rukun Warga di wilayah Emak tinggal. Sayangnya, informasi tentang pengelolaan sampah ini kurang tersosialisasikan dengan maksimal. Buktinya, tumpukan sampah-sampah di depan rumah warga seringkali masih belum terangkut petugas berhari-hari.

Bahkan, yang paling miris adalah tumpukan sampah itu banyak dikerubuti lalat. Artinya, meskipun berada dalam kantung-kantung pelastik, sepertinya masih banyak sampah organik yang bercampur dengan sampah kertas atau pelastik.

Namun, sebelum mengenal konsep ekonomi sirkular Indonesia, Emak pribadi sebenarnya sudah sangat memperhatikan tentang hal ini. Makanya, di rumah sudah menerapkan bank sampah mandiri. Alasan utamanya adalah karena tidak bisa mengandalkan petugas mengangkut sampah secara teratur. Sehingga, ada perasaan dirugikan ketika kita sudah membayar iuran sampah, tetapi pengelolaan sampah tetap tidak efektif. Karena itu Emak memilih mengelola sampah sendiri.


Kalian mau tahu kan, seperti apa pengelolaan sampah di rumah Emak?

Ada 3 sistem pengelolaan sampah mandiri yang ditetapkan. Mari kita bahas satu-satu, ya.


1. Sampah Organik

Biasanya berasal dari sisa-sisa bahan pangan yang diolah di dapur atau sisa makanan dari piring bekas kita makan. Yang seperti ini, Emak sediakan wadah pelastik atau thinwal bekas kemasan. Disimpan di dekat tempat pencucian piring, sehingga memudahkan untuk proses membuang sampah, terutama saat kita sedang memasak. Lalu, ketika sudah penuh, isinya akan dibuang ke tanah kosong yang ada di sebelah rumah. Setidaknya, paling lambat setiap pagi harus dibuang. Tidak dibiarkan terlalu lama, untuk menghindari munculnya telur lalat.


2. Sampah Kertas dan Kantong Pelastik kecil

Yang seperti ini biasanya terbagi lagi 2 kategori. Sebagian tetap disimpan untuk digunakan kembali sebagai alat bungkus. Terutama kantong pelastik yang bisa digunakan sebagai kantong sampah kering. Jika kantong sampah kering ini sudah penuh, lalu kita bakar. Kebetulan kami membuat tempat pembakaran sampah khusus depan rumah. Mungkin model seperti ini masih harus dievaluasi dan diubah menjadi lebih ramah lingkungan. Namun, setidaknya rumah kami selalu bebas dari sampah yang menumpuk dan asapnya diusahakan tidak sampai mengganggu tetangga sekitar rumah.


3. Sampah Karton, Gelas, dan Botol

Untuk sampah-sampah yang lebih besar, seperti karton atau kardus-kardus, gelas atau botol pelastik bekas minuman, ataupun botol-botol bekas kemasan saus, kami menyediakan lagi tempat khusus di sebuah drum pelastik yang disimpan di area garasi depan rumah. Saat ini memang belum disetorkan ke Bank Sampah Unit, tapi kami kumpulkan untuk nanti diambil oleh pemulung barang bekas langganan. Beliau sudah secara teratur akan datang, setidaknya sebulan sekali, untuk mengambilnya. Hal ini pun sepertinya sudah bisa dianggap bernilai ekonomi, ya. Karena, buat si bapak nantinya akan bisa dijual ke tempat pengepulan sampah. Ya, kalau menurut Emak sih jadinya ada prinsip simbiosis mutualisma. Saling menguntungkan.

Nah, seperti itulah kira-kira pengelolaan sampah ala ekonomi sirkular Indonesia di rumah Emak. Mungkin masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan. Tapi, setidaknya kami sudah menerapkan prinsip untuk memilah sampah, menjadi sampah organik dan sampah kering. Sehingga, kalau ada tindak lanjut untuk disalurkan ke Bank Sampah Unit setempat juga akan lebih mudah.

Bagaimana menurut kalian, penting juga kan untuk bisa mengelola sampah secara mandiri di rumah? Yuk, segera terapkan prinsip pengelolaan sampah berbasis Bank Sampah Bersinar supaya bisa mendukung Ekonomi Sirkular Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar