Sabtu, 05 Maret 2022

Pond's Triple Glow Serum, Wanita yang Ingin Tetap Tampil Jelita Wajib Coba!

Buat Momies, apa sih alasan memilih produk skincare? Kalau saya sih, harus banget mengikuti prinsip “cocok”. Maklum, semuanya serba sensitif. Dari kulit wajah sampai ke dompet. Namanya juga emak-emak. Sebagai Manajer Keuangan keluarga, hitung-hitungan belanja harus jelas. Ada yang sama?

Jadi, punya kulit yang cukup sensitif itu memang gampang-gampang susah buat cari produk perawatan atau make up. Sebab, salah pilih kandungan yang ada di dalam produk, sudah deh wajah bukannya glowing. Malah tambah ambyar. Haha ... canda ambyar. Salah satunya adalah memilih serum pencerah wajah. Harus benar-benar teliti.

Tapi, untuk pilihan yang cocok, alhamdulillah saya sudah punya. Salah satunya adalah produk dari Pond’s. Selain cocok dan disesuaikan dengan kulit wanita Asia kebanyakan, produk ini juga paling cocok di dompet. Harga affordable tapi kualitas termasuk sangat baik.

Untuk perawatan sehari-hari, saya memang bukan termasuk perempuan yang telaten. Tapi, minimal mencuci muka setelah bepergian atau menjelang tidur malam itu adalah rutinitas wajib. Supaya kebersihan dan kesehatan kulit wajah tetap terjaga tentunya. Buat saya, menggunakan Pond’s Serum Facial Foam sudah sangat pas. Buktinya, banyak yang suka pangling kalau ketemu. Kata mereka, wajah saya bersih dan segar katanya.

Wah, pasti senang dong. Maklum, usia sudah tidak muda lagi. Bahkan sudah “jelita”. Alias jelang lima puluh tahun. Makanya butuh perawatan ekstra supaya wajah tetap terlihat fresh.


Lalu, untuk skincare saya pake apa lagi?

Nah, berhubung momy usia jelita ini butuh serum pencerah wajah, selama ini saya suka agak memaksakan diri untuk mencoba merek-merek yang dipakai oleh teman. Maklum, emak-emak itu bawaannya pengen aja nyoba yang dipakai orang lain. Apalagi kalau terbukti hasilnya OK. Iya, kan?

Sayangnya, tidak semua merek itu akhirnya cocok dengan saya. Beberapa kali pakai, kebanyakan tidak lanjut. Kalau bukan karena kulit yang meradang, biasanya dompet ikut meradang. Sampai akhirnya dapat informasi kalau Pond’s juga ternyata sudah meluncurkan produk skincare baru. Pond’s Triple Glow Serum. Tidak mau buang waktu, segera meluncur cari tahu lebih detail si serum pencerah wajah ini.

Menurut info yang saya dapatkan, Pond’s Triple Glow ini terdiri dari dua produk. Produk pertama yaitu Pond’s Triple Glow Serum, sedangkan yang satu lagi Pond’s Triple Glow Serum Mask. Wah, sepertinya bakal jadi duo dahsyat yang tak terpisahkan nih.

Bagaimana tidak, katanya serum pencerah wajah terbaik dari Pond’s ini mengandung formulasi khusus. Konsentrat serum pencerah wajah yang menggabungkan 3 kekuatan terbaik. Mampu bekerja 60 X lebih efektif dari Vitamin C, yaitu:

1. Mencerahkan dengan Gluta-Boost-C: mengandung glutathione, antioksidan yang dikenal mampu mencerahkan kulit. Formula unik Gluta-Boost-C efektif menyamarkan flek hitam, untuk wajah tampak cerah dan warna kulit merata

2. Melembutkan dengan Vitamin B3+: menyamarkan pori untuk wajah tampak mulus

3. Melembabkan dengan Hyaluronic Acid: menyerap mendalam ke setiap lapisan epidermis kulit untuk wajah tampak lembab berkilau.

Cara menggunakannya pun mudah. Yaitu, ratakan 2-3 tetes POND'S Bright Beauty Triple Glow Serum di wajah terutama setelah menggunakan 3-in-1 Potion Essence. Tepuk perlahan untuk membantu menyerap ke dalam kulit. Lanjutkan dengan pelembab untuk mengunci. Kamu akan dapatkan manfaat terbaik dari serum pencerah wajah ini.


Lalu, selanjutnya apa lagi?

Pertanyaannya, apakah kamu merasa wajahmu kusam dan butuh nutrisi tambahan? Atau ingin kulit wajahmu tampak glowing seperti Wendy RED VELVET? Katanya, coba saja POND'S Bright Beauty Triple Glow Serum Mask baru, yang mengandung serum Niacinamide 100 x lebih banyak dari Pond’s sheet mask lainnya. Triple Glow Serum Mask ini dapat mencerahkan, menghaluskan, dan melembabkan kulit hanya dalam 1 kali pakai.

Sama halnya dengan Triple Glow Serum, masker ini juga mengandung formulasi khusus. Masker serum rahasia kulit glowing Wendy RED VELVET ini dilengkapi dengan konsentrat brightening yang menggabungkan 3 kekuatan skincare terbaik untuk pancarkan triple action glow:

1. Mencerahkan dengan Gluta-Boost-C: mengandung glutathione, antioksidan yang dikenal mampu mencerahkan kulit. Formula unik Gluta-Boost-C efektif menyamarkan flek hitam dan mencerahkan wajah 60 X lebih efektif dari Vit C

2. Melembutkan dengan Vitamin B3+: menyamarkan pori untuk wajah tampak mulus

3. Melembapkan dengan Hyaluronic Acid: menyerap mendalam ke setiap lapisan epidermis kulit untuk wajah tampak lembab berkilau.

Untuk selanjutnya Momies bisa lebih percaya diri dengan bare face (tanpa make up). Sebab, berdasarkan review yang dirangkum, ternyata Pond’s Triple Glow Serum ini katanya memberikan manfaat seperti berikut:

1. Membuat pori-pori kulit wajah jadi lebih kecil jadi tersamarkan

2. Aromanya soft, teksturnya ringan, tidak lengket, cepat meresap agak kental dibanding serum pada umumnya, namun ketika diaplikasikan ke wajah jadi melted sehingga mudah banget diratakan di kulit dan mudah meresap sehingga wajah langsung lembab, sehat dan terasa kenyal

3. Setelah pemakaian kurang lebih 2 minggu, kalo cocok, wajah kelihatan lebih cerah dan lembab. Bagi yang berjerawat, serum ini bisa menyamarkan bekas jerawat. Serum ini tidak bikin perih ketika diaplikasikan di kulit yang sedang berjerawat

4. Solusi Untuk Masalah Kulit Wajah dan Diformulasikan Khusus Untuk Kulitmu

Nah, sudah sedetail ini informasinya tentang Pond’s Triple Glow Serum. Momies mesti akan tetap terlihat jelita, kan? Yakin, masih belum mau coba serum pencerah wajah ini?

Minggu, 27 Februari 2022

Membangun Personal Branding Positif melalui Blog

Kalau baca dari judul saja, sepertinya akan ada dua fokus topik pembahasan ya. Tentang personal branding dan juga tentang blog. Momies sudah punya blog? Atau sudah menjalankan personal branding tapi di platform lain? Yuk, kita mulai bahas.

Apa itu personal branding?

Saya akan coba paparkan berdasarkan pemahaman yang saya peroleh ketika ikut kelas Pak Subiakto, beliau adalah seorang pakar Brand di Indonesia. Menurut beliau, dalam kaitannya dengan kegiatan bisnis, ada 3 cara untuk melakukan branding. Yaitu melalui corporate branding (menonjolkan perusahaannya atau bisnisnya secara global), product branding (menonjolkan hasil produksinya secara spesifik), atau melalui personal branding (menonjolkan profil pribadi yang bisa mewakili bisnis atau produk).

Artinya, kegiatan personal branding ini ternyata bukan hanya milik pribadi seseorang dalam ruang lingkup yang sempit saja. Kebanyakan orang mengira bahwa personal branding secara sederhana adalah bagaimana orang mengenali kita. Sebagai siapa? Profesinya sebagai apa? Namun, lebih luasnya personal branding ini bisa menjadi sebuah proses yang dibangun untuk mencapai sebuah tujuan. Atau dengan kata lain, by design. Ada poin-poin yang bisa kita susun untuk mencapai yang dimaksud.

Contohnya, membangun personal branding sebagai ibu rumah tangga yang produktif dari rumah. Dalam hal ini berarti Momies bukan hanya dilihat orang lain sebagai seorang ibu rumah tangga saja. Meskipun sebenarnya aktifitas rumah tangga itu tidak pernah ada habisnya ya, Mom. Lebih dari itu, maka Momies bisa menunjukkan ada kegiatan lain, misalnya sebagai pebisnis, sebagai penulis, atau sebagai mom-influencer. Intinya, Momies bisa tetap menghasilkan meskipun dari rumah.

Lalu, bagaimana orang-orang akan mengenal Momies dengan kegiatan itu? Tentunya harus ada media yang dijadikan tempat untuk menyampaikan informasi te rsebut. Salah satunya melalui media sosial. Memanfaatkan media sosial tidak hanya sekadar berbagi foto saat makan atau piknik, tetapi juga berbagi informasi tentang kegiatan yang Momies lakukan juga bisa menjadi proses terbentuknya personal branding yang diinginkan.

Selanjutnya, bagaimana hubungannya dengan blog?

Setiap orang biasanya punya kecenderungan yang berbeda ketika melakukan suatu aktifitas. Termasuk dalam memilih platform media sosial. Ada yang lebih suka menggunakan Facebook dibandingkan Twitter, atau sebaliknya. Ada yang suka membaca blog dan artikel-artikel, tetapi ada juga yang lebih suka mencari informasi hanya dari Instagram saja. Semua memiliki kebebasan untuk memilih mana yang lebih disukai atau nyaman dengan kebiasaan masing-masing. Blog sebagai salah satu media komunikasi sosial, memang memiliki kelebihan pada kelengkapan informasi yang bisa disampaikan kepada orang lain.

Selain berupa tulisan yang cukup panjang, rata-rata bisa sampai 500 kata atau bahkan 1000 kata. Dengan membagi informasi di blog, kita juga bisa lengkapi dengan foto-foto yang relate dengan kegiatan yang kita tuliskan. Bahkan, memungkinkan juga untuk membagi video-video pendek untuk disisipkan. Artinya, kalau dibandingkan media sosial yang lain, sebenarnya blog adalah media sosial dengan paket yang paling kumplit.

Hanya saja, tidak semua orang suka baca artikel yang panjang-panjang. Atau sebaliknya, tidak semua orang suka menulis panjang dan lebar. Sehingga, lebih suka dengan cara yang simpel. Bahkan, jika Momies memanfaatkan blog untuk membagikan kegiatan positif yang dilakukan, informasinya akan menetap jangka panjang. Kapanpun orang bisa akses, terutama jika blog kita sudah dibekali dengan SEO. (Butuh pembahasan lanjutan kayanya sih kalau ini). Selain membagikan kegiatan yang dilakukan, Momies juga bisa membagikan pemikiran-pemikiran, ide-ide, ataupun tema-tema keseharian yang diminati. Sehingga orang lain bisa mengetahui semua visi dan isi kepala Momies sekalipun.

Namun, semua kembali lagi kepada peminatan masing-masing. Apapun media atau platform yang Momies pilih, yang penting adalah menjadi sarana kita berbagi informasi yang positif dan bermanfaat untuk orang lain, terutama menjadi inspirasi bagi Momies lain di luar sana. Akhir kata, selamat beraktifitas dan lanjutkan membangun hal-hal yang positif dalam diri Momies. Jangan selalu bandingkan dengan pencapaian orang lain, tapi selalu jadikan yang terbaik dari versi kita.

Be a positive. Be a great Mom.

Senin, 06 Desember 2021

Wisuda XVI Program Sarjana STT Bandung Tahun 2021 Secara Hybrid

Wisuda kali ini adalah tahun ke-3 bagi saya mengikuti perhelatan agung yang diselenggarakan oleh STT Bandung. Namun, ada yang berbeda karena diselenggarakan secara hybrid. Masa pandemik Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 memang masih belum usai secara tuntas, sehingga kegiatan wisuda pun mengalami adaptasi, agar tetap terselenggara secara kondusif. Meskipun demikian, penyelenggaraan wisuda hybrid ini tidak mengurangi kehidmatan acara yang sangat penting bagi mahasiswa dan mahasiswi. Sebab, pada momen ini mereka akan dilepas dari kampus menuju masyarakat. Wisuda berlangsung pada hari Minggu lalu, tanggal 5 Desember 2021, yang bertempat di Hotel Intercontinental Dago Resort Bandung.
Para wisudawan, orang tua, dosen, civitas akademika, pembina yayasan, dan undangan hadir di tempat yang telah disiapkan di salah satu Convention Hall di sana. Namun, sebagian wisudawan dan orang tua hadir secara daring melalui Zoom Meeting. Mereka saling terkoneksi di layar besar di dalam gedung dengan layar monitor device masing-masing. Kegiatan secara hybrid itu sendiri tentunya bukan hal baru. Selama satu tahun terakhir masa pandemik, mahasiswa sudah terbiasa dengan kegiatan kuliah daring. Namun, ketika kegiatan ini diikuti banyak pihak, tentu saja menjadi sesuatu yang istimewa. Terutama para orang tua yang hadir dari rumah. Sebagian dari mereka mungkin saja tidak terbiasa mengikuti video live, sehingga tampak beberapa orang yang kikuk. Walaupun demikian, secara kesuluruhan semua wisudawan dan orang tua tentu saja sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara yang telah disiapkan panitia dengan sangat rapi.
Semua hadirin dipastikan harus menyiapkan diri secara protokol kesehatan, menggunakan masker dan sarung tangan yang telah disiapkan. Kemudian pembawa acara menyampaikan bahwa seluruh senat civitas akademika akan memasuki ruangan wisuda. Seperti biasa, prosesi ini tidak pernah gagal untuk membuat suasana menjadi syahdu dan haru. Para pembawa bendera merah-putih dan lambang civitas akademika mendahului rombongan dengan menggunakan pakaian adat Sunda. Diikuti oleh jajaran Senat Sekolah Tinggi Teknologi Bandung. Iringan lagu “Gaudeamus Igitur” yang dinyanyikan paduan suara pun membahana ke seluruh ruangan, dan gaungnya tetap sampai kepada seluruh hadirin meskipun hanya melalui layar.
Setelah semua Senat menduduki tempat di depan panggung, kemudian dilanjutkan dengan persembahan Tarian Selamat Datang. Tarian ini dibawakan oleh 8 mahasiswi cantik yang mengenakan pakaian adat berwarna merah, sesuai dengan tema keseluruhan acara. Adapun, jika dimaknai tarian ini bertujuan sebagai bentuk dari ucapan dan doa agar semua selamat dan sejahtera. Sebelum pidato pembukaan, dilakukan “ketuk palu” sebagai tanda dibukanya “Wisuda XVI Program Sarjana Sekolah Tinggi Teknologi Bandung” secara resmi oleh Ketua Senat. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mengheningkan Cipta, dan Mars STT Bandung.
Pidato dan Sambutan Adalah Muchammad Naseer, S. Kom. M.T. sebagai Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, mengawali dengan pidato pembukaan. Seperti biasa, beliau selalu berhasil membuat hadirin terkagum dengan pencapaian-pencapaian baik dari para Dosen maupun mahasiswanya. Beliau menyampaikan bahwa perkembangan STT Bandung semakin hari semakin mendapat sambutan yang antusias, baik dari instansi maupun calon mahasiswa. Bagaimana tidak, STT Bandung sanggup menyediakan penyelenggaraan pendidikan yang menjamin keberlangsungan kemajuan dan perkembangan setiap mahasiswanya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Yang pertama, adanya kerja sama nasional dan internasional dengan lembaga-lembaga yang memberikan kesempatan mahasiswa untuk magang atau bekerja di luar negeri. Seperti LITHAN Academy Singapore, bekerja sama untuk membantu mahasiswa magang di Singapura. JPY International, yang membantu mahasiswa untuk dapat magang di Jepang. Bahkan, BP2MI menyediakan kuota sebanyak 3000 orang alumni untuk dapat bekerja di luar negeri, dengan mekanisme pekerja migran yang sangat aman. Sehingga, para orang tua tidak perlu khawatir meskipun anaknya bekerja jauh di luar negeri. Berdasarkan hasil sebaran lulusan STT Bandung, maka dapat disimpulkan bahwa Masa Tunggu Alumni adalah 45 hari. Artinya, setelah lulus wisuda sarjana di STT Bandung, maka rata-rata hanya butuh 45 hari saja bagi mereka untuk akhirnya memilih wirausaha, bekerja, atau melanjutkan studi (pasca sarjana).
Ada pula yang dinamakan Indonesia Career Center Network. Di sini mahasiswa bisa mempelajari sebuah keahlian dan mendapatkan sertifikat bertaraf internasional. Selain itu tersedia sarana berbagi pengetahuan dengan mahasiswa dari Perguruan Tinggi lainnya, seperti ITB, IPB, dan lain-lain. Pada tahun 2017 melaksanakan Forum Human Capital Indonesia, yang bekerja sama dengan 108 BUMN memberikan kesempatan mahasiswa untuk magang dan mendapatkan sertifikat. Bahkan, harapannya mereka dapat melanjutkan dan mengikuti proses rekrutmen di sana. Hal ini semua dilakukan untuk mengembangkan baik hard competency maupun soft competency, agar dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan professional.
Selanjutnya, Pak Muchammad Naseer juga menyampaikan tentang prestasi-prestasi yang diraih. Baik oleh para dosen maupun mahasiswa. Hal ini bukan saja menjadi suatu kebanggan, tetapi juga dapat menjadi referensi terbaik bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan kampus dengan tingkat partisipasi tinggi di kampus merdeka. Semakin berprestasi, semakin banyak pilihan untuk menyelesaikan pendidikan dengan caranya masing-masing. Apalagi, ditunjang dengan banyaknya program beasiswa dari berbagai pihak, semakin mempermudah peluang untuk belajar bagi kalangan tidak mampu sekalipun. Boleh dikatakan tak ada alasan untuk tak sekolah dan berprestasi bagi setiap mahasiswa.
Untuk itu, dengan segala persiapan yang dilakukan, demi kemajuan bersama, Pak Naseer pun memintakan doa agar pada tahun 2022 Sekolah Tinggi dapat berubah menjadi Universitas. Luar biasa. Siapa yang tak makin betah dan bangga menjadi bagian dari kampus ini. Apalagi dengan pengembangan gedung yang juga telah disiapkan. Selanjutnya sambutan dari Pembina Yayasan LPPI Bandung, Prof. Dr. I Made Bandem, M.A. Yang menarik dari beliau adalah apresiasinya tentang tari pembukaan. Di mana tarian ini adalah salah satu kebudayaan aseli Bandung, berupa tari Jaipong. Kata beliau, “Teknologi dan budaya tak dapat dipisahkan. Teknologi tidak lagi hanya menjadi sarana menyebarkan, memelihara, melindungi, dan memanfaatkan kebudayaan. Tetapi teknologi juga sudah menjadi bagian dari kebudayaan itu sendiri.”
Beliau juga menyampaikan bahwa tahun 2021 harus menjadi tahun kebangkitan dan masa awal pemulihan dari Covid-19. Bagaimana kita semua, terutama mahasiswa STT Bandung, bisa survive dan tetap menyelesaikan studi hingga wisuda hari ini. Tentunya dengan bantuan teknologi, pembelajaran tetap berlangsung secara daring. “Technology does save the world”, tegas beliau. Ditutup dengan ungkapan dari buku Arjuna Wiwaha, yang maknanya “Mari mengolah diri melalui kreativitas demi kebaikan dunia.” Dilanjutkan dengan Sambutan Lidikti Wilayah IV. Kemudian pengumuman mahasiswa dan mahasiswi berprestasi. Baru pada acara yang ditunggu, yaitu pemindahan tali toga wisudawan oleh Ketua Senat.
Selamat buat para wisudawan. #WisudaXVI #ErickThohir #STTBandung #2022GoesToUniversity #KampusMerdeka #CampusofFutureLeader ⁣ #CampusofTechnology⁣ #CampusofCreativity ⁣ #CampusofDesign⁣ #CampusofInnovation

Jumat, 03 September 2021

INDSCRIPT CREATIVE AND THE EXTRAORDINARY WOMAN BEHIND

 

Siapa yang belum kenal? Padahal tak kenal maka tak sayang. Saya sendiri tahu Indscript belakangan, karena lebih dahulu mengenal sosok pendirinya. Pada waktu itu kebetulan ada event kelas “Heart Selling on The Spot” di salah satu hotel di Bandung, sekitar bulan Oktober 2016. Wah, lumayan sudah lama ya.

Saat itu saya baru saja melek di dunia kepenulisan. Karena sebelumnya menulis itu hanya sebagai tempat curhat di medsos yang juga baru saya kenal. Ternyata, saya mendapatkan insight bahwa dengan bisa menulis kita bisa makin mudah berbisnis. Sebaliknya, kalau ingin bisnis makin berkembang maka harus bisa menulis. Berbisnis dan menulis menjadi satu paket yang saling melengkapi.

Satu hal yang makin menarik adalah bahwa kedua kegiatan itu ternyata bisa dilakukan fulltime dari rumah, oleh seorang ibu rumah tangga. Hal ini adalah salah satu impian terbesar dalam hidup saya. Ada yang samaan?

Kalau iya, berarti harus lanjutkan mengenali Indscript ini.

 

Indari Mastuti, suatu kebanggaan bisa mengenal pendiri Indscript Creative lebih dekat

 

Berawal dari seorang wanita luar biasa bernama Indari Mastuti, yang menyukai kepenulisan sejak masa sekolah. Sejak tahun 1996, saat masih kelas 1 SMA, ia sudah rajin mengirimkan cerpen-cerpen ke majalah atau koran. Tentu saja sudah ratusan karya yang dimuat.

Bekerja dan berkarir kantoran juga bukan tidak pernah dilakukan oleh seorang Indari Mastuti. Bahkan, sebelum menikah sudah pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi. Menjadi seorang Manager Marketing yang aktif hingga banyak bertugas ke luar kota. Pada saat itu, menulis memang baru merupakan kegiatan selingan di antara pekerjaan kantor. Namun produktivitas menulis ini tetap tinggi, karya yang dihasilkan tetap banyak. Bahkan, pada tahun 2004 akhirnya menelurkan novel perdana. Sejak itulah, Indari Mastuti banyak berhubungan dengan penerbit.

Hingga ketika sudah menikah barulah mulai berpikir bagaimana caranya agar tetap bisa menjadi ibu rumah tangga yang melayani suami dan mengurus anak, tetapi tetap memiliki kegiatan yang produktif dari rumah. Dibangun dengan landasan itulah, maka Indscript selalu mendasarkan semua kegiatannya dikaitkan dengan Ibu Rumah Tangga.

 

Indari Mastuti (foto from profil facebook)



Indscript Creative, kapan dan bagaimana mulai dibangun?

 

Memulai kedekatan dengan penerbit Gramedia, Syamil sejak terbitnya novel perdana di tahun 2004, memberikan ruang lebih leluasa bagi Indari Mastuti untuk melanjutkan kerja sama selanjutnya. Sehingga ketika pada 2007 menikah dan mulai berpikir ingin berbisnis dari rumah, maka pilihan bisnisnya jatuh pada kegiatan yang berhubungan dengan menulis. Bisnis menjadi lebih mudah karena menulis adalah suatu hobi yang disukai. Pada saat itu belum menggunakan brand sebagai Indscript, masih dengan nama sendiri, Indari Mastuti.

 

Mulai menawarkan lebih intens kepada penerbit dan hasilnya malah ditawarkan untuk menulis tema lain yang selama ini tidak biasa atau tidak pernah ditulis. Masya Allah, feedback yang di luar dugaan. Akhirnya pada akhir tahun 2007, dimulailah merekrut penulis untuk dapat membantu memenuhi semua permintaan.

Memasuki awal 2008 barulah mulai dengan nama Indscript Creative. Nama ini diberikan oleh sang suami, Deky Tasdikin. “Ind” artinya Indari, “script” artinya tulisan, dan “Creative” dengan harapan tulisan yang dihasilkan untuk klien ini adalah tulisan yang kreatif. Bahwa tulisan-tulisannya bukan sekadar jadi buku tapi juga harus enak untuk dibaca. Buat teman-teman yang sudah pernah membaca bukunya Indari Mastuti pasti akan mengaminkan. Buat saya bahkan lebih dari itu, tulisan yang dibuat selalu mampu menginspirasi.

 

Bagaimana Indscript Creative berkembang?

 

Pada awal tahun 2007 fokus bisnis masih sebagai agensi naskah, yaitu penyambung lidah penerbit dan penulis. Penerbit-penerbit yang bekerja sama dan sangat loyal hingga sekarang, yaitu Kompas Gramedia, Swadaya, dan Elex Media. Harapannya, jenis usaha ini tetap langgeng. Meskipun dari tahun ke tahun selalu berusaha mengembangkan lini-lini bisnis yang lainnya.

 

Tahun 2010 mulai mengembangkan penulisan biografi. Pada saat itu klien pertamanya adalah Brownies Amanda. Terus bertambah dari mulai Teh Ninih, ibu Siti Oded, ibu Atalia Praratya, bahkan ekspatriat Jepang. Target khususnya adalah memang pejabat-pejabat dan pengusaha kelas kakap, karena jasa penulisan biografi ini tidaklah murah. Bisa dipatok hingga 120 juta per satu project buku. Wow, harga yang cukup menggiurkan untuk menjadi seorang penulis, ya?

 

Selain itu, sejak tahun 2015 mulai mengerjakan juga direct selling. Dasar pemikirannya adalah, apa kira-kira yang bisa menghasilkan secara masif dan setiap hari? Sedangkan project buku biasanya berdasarkan kontrak atau per-bulan. Produknya ada bermacam-macam, seperti “Board Media Pencapaian Target”, “Board Mimpi”, dan lain-lain. Saat ini sudah ada sekitar 10.000 reseller yang berada di bawah jaringan Indscript.

 

Foto taken from google image



Bagaimana Indscript Creative bertahan di tengah badai pandemi?

 

Tahun 2020 pada saat pandemic, Indscript malah membuat percetakan sendiri. Dari karya Indari Mastuti sendiri atau penulis-penulis lain yang ingin mencetak buku.  Sehingga bukan lagi hanya sebagai agensi naskah, namun sudah berkembang menjadi percetakan dan publisher. Buku-buku yang ada di Indscript saat ini idak hanya melalui kerjasama dengan penerbit, tetapi sudah mulai lengkap mulai dari menulis, mencetak, menerbitkan dan mendistribusikan sendiri.

 

Bahkan, di tahun 2021 ini sudah berkembang menjadi agensi blogger, yaitu sebagai penyambung lidah antara perusahaan dengan para blogger. Serta yang terkini juga mengembangkan platform marketplace khusus untuk perempuan dengan nama Terhubung.co.id dan membuat channel YouTube “Rumah Teh Iin” yang akan menjadi cincin dalam dunia pernikahan. Isinya berbicara atau mengupas dengan sang suami tentang dunia pernikahan. Silakan langsung saja cari tahu kalau penasaran, ya.

 

Unforgetable moment buat Indscript Creative

 

Tahun 2007 membangun bisnis dan berkembang sangat pesat tetapi kurang dibarengi dengan ilmu, sehingga mengalami bangkrut di tahun 2010. Dari 16 karyawan menjadi tinggal 3 orang saja yang tersisa.

Namun kejadian ini menjadi titik balik kesadaran bahwa bisnis itu butuh ilmu. Sejak saat itu Indari Mastuti mulai belajar mentoring, ikut coaching, mulai membangun networking sampai mendapatkan akses-akses yang luar biasa untuk pembelajaran. Hingga hari ini menjadi sangat paham bahwa segala sesuatu itu butuh ilmu.

Layaknya sebuah bisnis, pasti akan mengalami pasang surut. Terjatuh itu sudah biasa, yang sulit adalah mempertahankan keinginan untuk selalu bangkit. Momen inilah yang mendorong semangat belajar Indari Mastuti untuk terus bergerak.

 

Harapan Indscript Creative di masa depan

 

Bagi Indari Mastuti, harapan ke depan akan selalu kembali kepada sejarah, yaitu ingin menjadi ibu rumah tangga yang produktif dari rumah.

Karena itu, Indscript Creative harus menjadi perusahaan yang membuat produktivitas perempuan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Visinya adalah melahirkan 1 juta penulis dan 1 juta pebisnis.

Semoga, saya dan teman-teman bisa jadi bagian di sana, ya. Aamiin.

 

 

Minggu, 12 Januari 2020

WISUDA STTBANDUNG XIV TAHUN 2020 HARUS BISA MENJADI LOMPATAN GLOBAL

Wisuda bukan sekedar seremonial, tapi harus menjadi lompatan lebih jauh yang lebih global.
"Lulusan STTB tidak boleh hanya sekedar jago kandang dengan hasil-hasil karyanya, tapi kandangnya ya harus dunia ini" begitu kata Prof Ilham Habibie dalam wawancara dengan media ketika menjadi keynote speaker pada acara Wisuda XIV STTBandung pada tanggal 11 Januari 2020 di Hotel Harris Convention Hall kemarin.

Sumber dari Instagram STTB


Kalimat ini buat saya menjadi inspirasi yang bisa merangkum seluruh rangkaian acara panjang sejak pagi hingga siang hari itu. Bagaimana semangat mereka sangat terlihat di wajah-wajah segar yang tak sabar menanti di pintu masuk convention center ketika saya pun harus datang lebih pagi dari mereka supaya bisa meliput lengkap seremoninya.

Diawali pemandangan di depan hotel. Terlihat banyak keluarga ikut mengantar. Mereka sampai rela duduk atau berdiri sepanjang pintu lobby hotel hingga ruangan sebelum pintu masuk convention center yang menjadi tempat acara wisuda. Sepertinya bukan hanya ayah dan ibu. Ada juga keluarga besar yang ikut mengantar. Demi apa? Tentunya demi menunjukkan kebanggan pada satu sosok yang disebut sebagai wisudawan.

Pedagang bungapun ikut menyambut mereka. Tak hanya sekedar ikut meraup keuntungan berjualan, tapi esensinya juga tetap terasa kok. Keluarga seperti diingatkan untuk ikut menyampaikan ucapan selamat dan kebahagiaan itu dalam bentuk buket bunga.  Malah tidak hanya itu. Simbol kebanggan dan sayang kepada anak, kakak, adik, atau bahkan pasangannya, bisa juga dalam bentuk buket boneka atau permen. Ada-ada saja idenya. Tapi yang penting semua ikut bahagia, ya...

Pemandangan berjejalan berlanjut ketika saya baru saja keluar dari pintu lift. Orang tua dan wisudawan harus rela menunggu sebelum pintu masuk dibuka security karena tempatnya masih dalam persiapan. Beruntung saat itu saya bukan bagian dari mereka. Sebagai blogger, Alhamdulillah langsung dipersilakan masuk.

Hal ini menambah inspirasi untuk tidak hanya menyampaikan liputan acara ketika berlangsung di dalam gedung. Buat saya, justru suasana sebelumnya ini menjadi pengantar yang menguatkan acara itu sendiri. Tanpa antusiasme dari mereka, maka acara wisuda akan hambar. Berjejalan menjadi semacam hype acara wisuda ini. Jadi sama gejolaknya ketika kita akan menuju konser idola yang ditunggu-tunggu.

Ada ketidaksabaran ingin segera larut dalam seremoni megah yang selalu berhasil membuat air mata meleleh tanpa sadar. Setelah puluhan tahun berlalu, suasana wisuda sayapun turut hadir dalam hati.

Para wisudawan tentu bangga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan yang telah ditempuh. Orang tuapun lebih bangga karena akhirnya seperti di penghujung beban yang berat sebelum bisa melepas secara mandiri anak yang sudah dikandung dan dibesarkan dari kecil. Saatnya berbahagia karena sebentar lagi mereka bisa mewujudkan segala mimpi menjadi nyata.

Bukan hanya mimpi jadi sarjana. Tapi mimpi setelahnya. Mau jadi seperti apa kelak?  Bekerja, berkarir, atau memilih berwirausaha? Memilih bekerja di kota tempat tinggal atau justru merantau,  bahkan hingga ke luar negeri? Sungguh lebih terbuka semua peluang jika sudah menyelesaikan pendidikan formal. Meskipun tidak selalu jadi patokan.

Pada pidato pembukaan,  Ketua STTB Muchammad Naseer, S.Kom, M.T. sempat menyampaikan begitu banyak prestasi yang diraih mahasiswa selama di tahun 2019 ini.  Bahkan prestasi hingga di mancanegara. Ini patut menjadi kebanggaan anak negeri. Karena bisa membuktikan, bahwa sekolah ini mampu melahirkan kecerdasan-kecerdasan yang masih seringkali diperbandingkan dengan sekolah negeri. Padahal pada kenyataannya mereka pun mampu meraih prestasi yang tak kalah membanggakan negara Republik Indonesia di mata dunia. Semoga semakin bersaing secara global.

Hal ini dikuatkan oleh orasi ilmiah dari Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie. Salah satunya adalah statement bahwa Education is Key. Ini menjadi penanda bahwa sebuah kecerdasan akan bisa semakin teraplikasikan jika ada wadahnya. Belajar memang tak terbatas waktu, tapi menuntut ilmu secara formal tetap akan ada masanya. Sehingga memanfaatkan kesempatan menjadi sangat penting.

Menjadi manusia yang adaptif, mampu mengikuti setiap perkembangan teknologi. Terutama teknologi 4.0 yang akan semakin mempermudah langkah untuk lebih maju. Segala bidang akan dipermudah karena terkait dengan sistem informasi yang terintegrasi. Salah satunya melalui studi secara formal. Apapun bidangnya, dibekali dengan ilmu yang mumpuni akan semakin optimal dalam aplikasi di dunia nyata.

Sumber : Pasukan Blogger Joeragan Artikel

Yang mana aplikasinya tidak hanya cukup di lingkungan akademik. Tapi harus mampu juga berguna secara global alias mendunia.

Sejalan dengan hal tersebut, itu pula yang disampaikan dalam Kesan dan Pesan dari salah satu mahasiswa terbaik TI, Dheyu Laksmi Wulandari, S.T.. Kuncinya adalah ASK. A untuk attitude. S untuk Skill. K untuk knowledge. Menjadi sukses harus diawali dengan sikap yang baik dan bersahaja. Mau menerima setiap masukan positif untuk menjadi lebih baik. Lanjut dengan semangat untuk selalu mau mengasah kemampuan dan keterampilan agar semakin lama lebih menguasai hingga dapat dipercaya. Sambil tak ketinggalan, yang tak kalah penting adalah melengkapinya dengan ilmu pengetahuan sehingga tidak salah arah.
Sumber : Pasukan Blogger Joeragan Artikel

Sebagai penutup, tak lupa saya ucapkan selamat atas wisuda 209 orang lulusan STTB yang ke XIV di tahun 2020 ini. Di mana 113 orang dari mereka adalah berasal dari jurusan Teknik Industri, 70 orang jurusan Teknik Informatika, dan yang paling baru 26 orang lulusan dari jurusan Desain Komunikasi Visual. Semoga jumlah lulusan ini tidak hanya menjadi angka yang makin banyak di tahun berikutnya. Suatu saat nanti semua lulusan STTBandung ini mampu menunjukkan karir gemilang  Menjadi pemimpin kebanggaan orang tua, kebanggaan kampus, dan kebanggaan seluruh negeri di masa depan.


Minggu, 20 Januari 2019

Menuju Bahtera Ikhlas, sebuah buku renungan hati

Sebuah proses kehidupan yang tak mudah dilakukan adalah ikhlas. Menerima semua ketetapan dari Sang Maha Pencipta, meskipun pahit dirasa.

Ya, tidak semudah mengatakannya. Butuh jalan panjang untuk menemukan eksistensi diri sebagai hamba yang patuh hanya kepada perintah Allah Subhanahuwata'ala sebagai pencipta manusia. Tidak ada keyakinan lain, bahwa yang terjadi penyebab suatu perkara adalah suratan takdir yang sudah tertulis di lauful mafuz sejak ribuan tahun lalu.

Bahkan, terkadang tidak cukup hanya menafakuri diri. Butuh masukan dan dorongan dari orang lain supaya kita tetap istiqomah dalam pilihan atau keyakinan baik. Termasuk sebuah tulisan. Banyak orang menjadi hijrah karena sebuah tulisan yang membawa kepada muhasabah diri.

Demikian pula yang ditulis seorang Santi Rosmala. Mengalami pasang surut dan hantaman gelombang kehidupan, menjadikan dirinya banyak merenungi mana nilai yang harus tetap teguh dipegang mana yang seharusnya dilepaskan. Bukan tak pernah goyah, justru kegalauan-kegalauan malah mendorongnya membuahkan pikiran yang semakin positif.

Memiliki bisnis Rosmala Syar'i, seorang Santi tak pernah berhenti untuk belajar dan memperbaiki diri agar kemampuannya terus meningkat. Tidak hanya yang berkaitan langsung dengan bisnisnya, yang jauh lebih penting bahkan adalah pengembangan soft skill. Melatih diri berjejaring di lingkungan pebisnis. Melatih kepercayaan diri untuk berbicara di depan banyak orang. Termasuk juga melatih diri dalam kemampuan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk tulisan.

Hingga pada tanggal 10 Januari 2019 yang lalu, bertempat di The Palace Jeweler - Trans Studio Mart Bandung, telah resmi luncur buku yang tak hanya cantik covernya, tapi isinya juga syarat makna untuk manusia yang ingin belajar menguatkan diri menjadi lebih ikhlas. "Menuju Bahtera Ikhlas", bukan hanya membuktikan bahwa Santi bukan hanya mampu menulis, tapi membuahkan karya tulis. Padahal selama ini banyak yang meragukan bahkan merendahkan (membully).

Masya Allah... Allahu Akbar... Hanya dengan mengembalikan semua pada Sang Maha Pemberi Takdir, launching buku kali ini bukan sekedar membuktikan kemampuan membuat buku. Tapi juga kolaborasi yang sangat apik di antara para pebisnis.

The Palace Jeweler adalah bukan tempat sembarangan. Menyediakan perhiasan mewah dengan konsep design dari desainer terkemuka. Kalau kata managernya, sekarang musimnya 'beauty investment'. Investasi menguntungkan sekaligus membuat cantik karena sekaligus bisa dipakai.

Tidak akan mungkin launching buku sekaligus fashion and jewel show jika bukan karena kerjasama yang erat di belakangnya. Sehingga yang hadir tidak hanya mendapat kesempatan memiliki buku, tetapi juga disuguhi performa mewahnya berlian dan pakaian syar'i yang dikenakan para model. Yang meskipun dadakan tapi tampil cantik dan percaya diri. Salut untuk karya-karyanya.

Itu semua karena dipupuk dari hubungan baik antara Santi Rosmala, sang penulis buku, dengan jaringan bisnisnya. Mereka semua saling support. Termasuk sajian makanan dan minumannya. Para undangan benar-benar terpuaskan.

Bravo teh Santi Rosmala. Semoga bukunya mampu menembus manfaat sebanyak-banyaknya orang. Sebagaimana berlian yang berawal dari karbon, namun karena tempaan waktu ratusan bahkan mungkin ribuan tahun, mampu berubah menjadi intan berlian yang bercahaya indah. Seperti itulah dirimu...

Minggu, 09 Desember 2018

Wisuda XIII Sekolah Tinggi Teknologi Bandung : The Journey Has Began

"Wisuda atau kelulusan bukan akhir dari perjuangan, tapi sebagai awal untuk memberikan lebih banyak manfaat untuk orang banyak"

Kira-kira seperti itu nasihat yang disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB), Bapak Muchammad Naseer, S. Kom, M.T. untuk wisudawan-wisudawati yang baru dilantik hari Sabtu tanggal 8 Desember 2018 kemarin di Convention Hall Hotel Harris Jl. Peta Bandung.

Sungguh sangat mengena, sebab perjalanan yang sesungguhnya dalam mengabdi kepada lingkungan dan masyarakat baru akan dimulai. Tidak hanya untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat, tetapi juga mengenalkan kepada dunia tentang keberadaan STTB itu sendiri. 

Sebagai mantan mahasiswa era tahun 1990an saya kurang familiar dengan sekolah tinggi ini. Baru berdiri di bulan Oktober 1991, saat itu mungkin STTB kurang termasuk dalam pilihan favorite lulusan SMA. Saya pribadi baru mulai mengenal STTB setelah beberapa kali melakukan liputan kegiatan yang dilakukan. Salah satunya Selisik 2018 di bulan September 2018 lalu.

Cukup beruntung saya lagi-lagi mendapat undangan sebagai blogger di acara yang diselenggarakan oleh STTB. Kali ini acaranya Wisuda XIII STTB. Perhelatan ini akan menjadi sebuah pesta seremonial yang sangat istimewa, saya pikir. Diselenggarakan di Convention sebuah Hotel, tentulah terasa megah dan mewah. 

Nyatanya memang sangat istimewa. Bukan hanya kemewahan yang ditampilkan, tapi juga sangat khidmat dan penuh kharisma. Tidak hanya dihadiri wisudawan-wisudawati dan para orang tua, acara ini dihadiri pula oleh orang-orang penting di STTB. Pimpinan, pengurus, serta dosen-dosen.

Diawali dengan tarian Sunda sebagai pengantar sebelum pembukaan, untuk selanjutknya acara dimulai dengan seremoni penyambutan pimpinan civitas akademika. Diiringi lagu dari paduan suara, sepertinya selalu berhasil menggugah rasa kebanggaan.

Setelahnya, dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan dari Ketua STTB, Bapak Muchammad Naseer, S. Kom., M.T. Beliau tidak hanya sekedar menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan, beliau juga memaparkan banyak hal tentang STTB yang patut diketahui calon mahasiswa nantinya. 

Bahwa sejak berdirinya tahun 1991 lalu, STTB sudah meluluskan 1355 mahasiswa. Namun, untuk hari ini saja ada 183 mahasiswa, 106 orang dari jurusan Teknik Industri, 77 orang dari Teknik Informatika. Sungguh pertumbuhan yang signifikan akhir-akhir ini. 

Selain itu, beliau menyampaikan sebuah misi untuk semakin mengembangkan STTB. Bahwa dari 120 dosen yang ada, saat ini 96% adalah sudah lulus S2. Namun, tahun 2019 targetnya adalah 70% lulus S3. Harapannya, tentu saja agar ilmu dan teknologi selalu saling berkejaran dan tidak pernah ketinggalan untuk diaplikasikan.

Buktinya, dari hasil penelitian tentang alumni STTB, disimpulkan bahwa hanya butuh 45 hari saja bagi mereka untuk bisa tetap produktif. Pilihannya, melanjutkan kuliah (beasiswa), bekerja pada perusahaan, atau berwirausaha. Sungguh menunjukkan bahwa lulusan STTB sudah terjamin kemana langkahnya akan menuju di masa depan.

Saya pribadi mulai berpikir bahwa STTB ini bisa menjadi alternatif pilihan sekolah untuk anak saya yang memang sangat berminat pada komputer dan teknologinya. 

Acara dilanjutkan dengan pelatikan 183 wisudawan. Kemudian sambutan dari perwakilan mahasiswa Tina Sri Handayani, S. Kom., seorang difabel yang mampu berprestasi di Olimpiade Paralympic Daerah 2018 lalu, dengan mengantongi 3 medali sekaligus. Tak ketinggalan janji wisudawan yang dipimpin oleh Muhammad Satria, S.T. sebagai Ketua BEM di masa aktifnya. 

Selain itu pemberian penghargaan kepada mahasiswa terbaik dari masing-masing jurusan. Juga skripsi terbaik yang diwakili 4 orang dari setiap jurusan. Sungguh suatu kebanggan untuk orang tua yang ikut mendampingi mereka.

Sebelum penutupan, sempat juga pemaparan orasi ilmiah dalam bahasa Inggris dari alumni yang saat ini berkarir di Perusahaan Airbus. Seperti biasa, tentu saja orasi ini bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada generasi penerus untuk juga bisa berkarya dan mengembangkan ilmu supaya lebih aplikatif dan berdaya guna di perusahaan atau masyarakat. 

Acara hiburan pun tak terlewatkan. Angklung dan paduan suara sungguh membuat suasana bahagia semakin terasa. Semua wajah berseri dan bergembira dengan kelulusan sebagai mahasiswa, dan berubah nama menjadi alumni Sekolah Tinggi Teknologi Bandung.

Semoga apa yang dicita-citakan dapat terwujud ya. Sebagaimana catatan kecil yang ingin saya sematkan di sini...

"Meraih bintang tak selalu harus di langit. Kamu bisa menggambarnya di awan mimpimu sendiri"

Be succes!

Be your own value!

#wisudaXIII

#sttbandung