Minggu, 02 September 2018

Seminar Telekomunikasi dan Informatika SELISIK 2018

Memahami Lebih Lengkap Sumber Daya Manusia yang Siap Menghadapi Industri 4.0

Luar biasa beruntungnya saya jadi lebih paham apa yang dimaksud Making Indonesia 4.0. Itu ungkapan yang melintas di kepala saya ketika akhirnya bisa hadir dalam Seminar Telekomunikasi dan Informatika alias SELISIK 2018, yang dihadiri akademisi dan mahasiswa. Kali ini mengambil judul "Menyiapkan Sumber Daya Manusia untuk Menghadapi Industri 4.0".

Diselenggarakan di Hotel Harris Festival Citylink Bandung pada tanggal 1 September 2018. Melanjutkan Diskusi Publik sebelumnya, STTBandung sebagai bagian dari Perguruan Tinggi tampaknya sangat nyata ingin ikut di dalam mempersiapkan kompetensi Sumber Daya Manusia. Sehingga, khususnya lulusan dari Perguruan Tinggi ini kelak tidak hanya bermodalkan ilmu, wawasan dan hasil riset, tetapi juga mampu mengintepretasikannya dalam bentuk produk yang bernilai jual, sebagai bagian dari bisnis atau industri itu sendiri.

Menurut Bapak Muchammad Naseer, pada sambutan pembukaan sebagai pimpinan STTBandung, bahwa platform penelitian Perguruan Tinggi saat ini ditantang untuk bisa menerjemahkan semua roadmap Making Indonesia 4.0. Namun, kunci keberhasilannya tentu saja tetap pada adanya hubungan yang harmonis dalam siklus yang berkesinambungan, baik dari pemerintah, pelaku industri, Perguruan Tinggi dan juga masyarakat. Maka, Making Indonesia 4.0 tidak hanya akan berhenti sebagai konsep, melainkan perubahan mind set (cara berpikir) dan action (tindakan) dari semua kalangan.

Sempat diselingi siraman rohani dari Prof. Ing. Iping Supriana Suwardi, Guru Besar dari ITB. Beliau mengingatkan kita bahwa Industri 4.0 ini pada dasarnya adalah pemahaman yang baik terhadap komputer dari Sumber Daya Manusianya. Dimulai dari, apakah itu Algoritma? Berasal dari Al Khawarizmi, seorang ilmuwan muslim yang mengelola data raksasa, dengan cara membagi-bagi. Bagaimana memahami sel dalam memproduksi sel? Bagaimana memecahkan persoalan berdasarkan bagian per-bagian.

Maka, dasar ini yang bisa digunakan utk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Yaitu dengan mengingat kepada nilai fundamentalnya. Bahwa mahluk hidup pun tercipta dari banyak sel seperti algoritma. Sehingga, memahami komputer sama dengan memahami manusia, sebagai mahluk hidup yang diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Dengan demikian, mempelajarinya harus memiliki landasan bukan hanya pada akal tetapi juga pada rohani atau keimanan. Manusia tetap menjadi Imam atau Khalifah atas teknologi. Jangan sampai mendewakan teknologi dan melupakan landasan agama dalam pengembangan atau pemanfaatannya.

Dilanjutkan dengan penyampaian materi yang segar dari Bapak Priyantono Rudito, Ph.D. Beliau adalah Tenaga Ahli Mentri Pariwisata Republik Indonesia. Pantas saja kepiwaiannya berkomunikasi sangat terasa. Menyampaikan materi yang cukup serius menjadi sangat asik untuk diikuti. Kali ini, dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia menghadapi Industri 4.0, beliau mengusung konsep "DIGITAL MASTERY". Dengan metode 3 C (Context, Concept, Dan Content), peserta dibuat mampu menyerap materi yang dipadatkan, dari seharusnya 4 jam menjadi 50 menit saja.

Dimulai dari strategic context, kita harus pahami dua hal. Pertama, bahwa "We are truly living in digital era". Sadari dan terima bahwa kita tak dapat menolak untuk hidup di era digital. Kedua, bahwa setiap perubahan era itu terjadi "Lebih cepat dari yang diperkirakan". Kita tidak dapat menahan laju masuknya era digital dan perkembangannya.

Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ada yang memacunya. Ada 6 hal yang dianggap sebagai digital steroids, yaitu :
1. Board brand access
2. Internet
3. Open Source
4. Application
5. Social media
6. Smart gadget

Sederhananya, mencari informasi apapun sudah tinggal 'klik'. Termasuk kebutuhan ibu-ibu untuk menyediakan masakan di rumah sekalipun. Ibaratnya sudah tidak butuh pisau dan peralatan dapur lagi. Sebab, tinggal 'klik' aplikasi di Hand phone, makanan sudah bisa diantar di depan mata (aka. By Go Food). Waaahh... Pak Priyantono sempet mengecoh saya. Saya pikir ada alat lebih canggih yang bisa memasak instan dari sekedar Microwave atau panci pressto. Ternyata, Industri 4.0 bukan hanya sampai di situ. Produk yang dihasilkan adalah sesuatu yang intinya memudahkan kegiatan manusia. Di sinilah revolusi terjadi. Dari revolusi teknologi bisa langsung berakibat pada revolusi ekonomi pula.

Namun, pada prinsipnya tetap bahwa "Digitalisation is the new normal toward Industry 4.0". Artinya, yang dihasilkan adalah tidak selalu hal yang benar-benar baru. Hanya mengubahnya menjadi 'Disruptive Product' alias menawarkan value yang tidak dapat ditolak oleh customer. Contoh yang paling relevan saat ini, hampir semua orang sudah beralih dari sekedar SMS ke platform Whatsapp. Kenapa? Karena value yang ditawarkan nyata diperlukan oleh semua kalangan.

Tinggal tugas akhirnya adalah pada strategic challenge, bagaimana cara mentransformasi digital informasi itu? Menurut Pak Priyantono harus "Going from BEST to NEXT PRACTICE". Jadi, bukan berakhir pada menghasilkan yang terbaik lagi, tetapi bagaimana membuka hambatan dari dalam diri supaya bisa menghasilkan sesuatu untuk ke depan (bukan sekedar hari ini).

Bagaimana caranya? Sejalan dengan yang disampaikan Pak Iping sebelumnya,  ternyata tetap meyakini bahwa Human Capital adalah core dimensi dari tranfsormasi digital yang sangat multidimensi ini. Digital Leadership yang berasal dari kemampuan kepemimpinan sebagai manusia yang alami, dikuatkan dengan Digital Attitude dan Digital Culture. Salah satu bentuknya adalah kreativitas dan inovasi yang tanpa henti, akan mengasilkan Business Performance yang terbaik.

Hanya saja, yang tak boleh diabaikan bahwa kunci untuk memperlancar industri 4.0 adalah kolaborasi antar generasi. Pemikiran baru dan out of the box karena belum banyak beban dari generasi millennial, didukung kebijakan dan otoritas dari generasi industri sebelumnya, tentu akan makin memudahkan sebuah ide bisa langsung dieksekusi.

Penutup dari Pak Priyantono, bahwa target Sumber Daya Manusia yang akan dibangun adalah bukan lagi sekedar di kuadran 1 sampai 4 dari Digital Capability dan Digital Leadership, tetapi loncat pada kuadran 9, yaitu yang Rahmatan Lil Alamin. Tujuannya bukan lagi untuk bisnis, tapi untuk kebaikan. Salah satu contohnya adalah Mark Zuckerberg yang mengembangkan Facebook bukan untuk bisnis, tetapi untuk memudahkan orang-orang untuk saling terhubung. Kenyataannya, nilai bisnisnya bukan mengalami perkembangan 100% tapi malah ribuan %. Luar biasa, bukan?

Melengkapi materi seminar hari ini, Bapak Prof. Suyanto, Rektor Universitas Amicom, memaparkan banyak contoh real dari persiapan Human Capital Development In Industry 4.0. Beliau membagikan banyak pengalaman dari mahasiswa-mahasiswanya yang tidak lagi berada pada pengembangan kemampuan sebagai professional, scientists, dan entrepreneur. Tetapi menurut beliau harus disempurnakan dengan pengembangan kemampuan sebagai artists, custumers, dan ecosystemparticipants. Sehingga, pada saat menjadi mahasiswa saja mereka sudah mampu produktif.

Kenapa bisa begitu? Karena menurut beliau, generasi sekarang mampu melakukan beberapa hal berbarengan alias multitasking. Kondisi ini yang harus dimanfaatkan dengan optimal, supaya tidak ada yang tertinggal dari Industri 4.0.

Mau ikut terbawa menjadi manusia Industri 4.0 atau terlibas di belakang? Pilihan ada di tangan anda. Saya sih sudah siap-siap jadi #Mom4.0. yang kepo sama teknologi. Masa kalah sama emak-emak kaya saya?

Selasa, 21 Agustus 2018

Making Indonesia 4.0, Konsep Yang Mungkin Diwujudkan?

Making Indonesia 4.0, Konsep Yang Asal Bapak Senang atau Nyata Diwujudkan?

Sebelum hadir di acara Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Bandung yang dipimpin Muchammad Naseer bekerja sama dengan Kementrian Perindustrian RI, berjudul "Penyiapan Sumber Daya Manusia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0", saya sempat berpikir skeptis. Apa iya, pemerintah bakal memikirkan juga solusinya jika ada dampak nyata dari pergeseran manusia oleh mesin cerdas? Kita semua kan sangat paham apa arti dari revolusi industri? Dan apa yang menjadi akibatnya nanti?

Pemerintah memang sudah mencanangkan dan membuat roadmap untuk merealisasikan Revolusi Industri 4.0 dunia dalam konsep yang lebih membumi nusantara, yaitu Making Indonesia 4.0. Bahkan sudah dimulai sejak Juli 2018 lalu.

Tinggal aplikasinya, kira-kira Sumber Daya Manusia yang ada atau yang akan datang bakal mampu mengikuti perubahan ini atau malah tergilas industri cerdas?

Pertayaannya buat saya sih sederhana? Ketika si cyber machine menggantikan 10 menjadi 3 orang saja untuk sebuah proses produksi, lalu ke manakah 7 lainnya akan disalurkan?

Ternyata kekuatiran saya terjawab. Semuanya dibahas tuntas dalam diskusi yang disampaikan 6 narasumber pada tanggal 20 Agustus 2018 di The Parlor, Dago atas, Bandung. Meskipun waktunya terbatas, tapi apa yang disampaikan mereka cukup "exactly according to the point" di bidangnya masing-masing.

Seperti kutipan dari beberapa narasumber berikut. Menurut bapak Prof. Suhono Harso Supangkat, Guru Besar Institut Teknologi Bandung, bahwa dengan kolaborasi semua pihak maka Making Indonesia 4.0 akan bisa berjalan sesuai rencana. Alias tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. 

Salah satu konsep yang akan dikembangkan dari universitas adalah Maker Space. Yaitu sebuah wadah online yang akan mempertemukan antara penghasil ide sebagai produsen dengan pengguna. Cara kerjanya tidak beda jauh dari aplikasi Taksi Online. Cukup kerenlah, ya. Buktinya, si Taksi Online saja bisa menghasilkan komoditi ekonomi dan menyerap tenaga kerja yang banyak, meskipun masih dianggap ilegal.

Secara, konsekuensi dari revolusi industri 4.0 ini adalah digitalisasi. Semua harus serba digital. Maka, informasi apapun akan ditangkap robot persis sama seperti respon manusia. Dan kita, harus mau ikut di dalamnya.

Sebelumnya, bapak Mujiyono, Kepala Pusdiklat Industri dari Kementrian Perindustrian menyatakan masih butuh banyak Sumber Daya Manusia kompeten yang bisa mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang industri. Artinya, tak perlu kuatir ada angkatan kerja yang tidak kebagian lahan pekerjaan.

Hanya saja, PR yang paling berat adalah, mampukah sekolah atau perguruan tinggi menghasilkan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kemampuan vokasi atau siap pakai? Bukan hanya menonjolkan pada nilai-nilai akademis saja. Sayangnya, dari 200 juta penduduk yang ada, baru 5% saja perguruan tinggi yang menyediakan jurusan vokasi sesuai kebutuhan industri. Alhasil, Kementrian Industri harus mengonsep sendiri program "Link and Match".

Konsep "Link and Match" ini padahal bukan sesuatu yang baru. Pernah dicanangkan juga pada masa kementrian pak Wardiman. Sayangnya tidak berhasil efektif atau tidak dilanjutkan dengan serius. Akibatnya, hari ini kita masih harus bekerja keras mengejar banyak ketinggalan. 

Salah satunya adalah dengan mengikatkan kerjasama antara pelaku industri dengan SMK yang sesuai kebutuhan mereka. Dari 13.000 an, sudah sekitar 1700 SMK terikat kontrak kerjasama dengan industri. Dengan demikian, kurikulumnya pun disesuaikan. Kompetensi yang dibutuhkan di manufaturing diterapkan di SMK dimaksud.

Sebaliknya, murid tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga praktek langsung di manufakturing agar bisa menguasai penggunaan mesin yang pas dengan kebutuhan. Ini yang dinamakan "Dual System". Bukan yang tertinggal dua dekade, seperti yang masih banyak ditemui.

Hingga, pada sesi terakhir yang paling menarik perhatian adalah yang disampaikan bapak Ronny P. Sasmita, Direktur Eksekutif dan Pengamat Ekonomi dari EconAct, maka kemajuan teknologi ini tidak untuk menggilas Sumber Daya Manusia yang tertinggal, tapi harus bisa menyejahterakan. Meskipun pergeseran manusia oleh mesin pintar adalah sebuah keniscayaan, tapi tetap harus meningkatkan daya hidup manusia itu sendiri.

Kalau sudah begini, apalagi yang ditakutkan dari sebuah revolusi industri? Bukan ketidakmampuan yang akan menggeser keberadaan manusia oleh robot pintar, tetapi ketidaksiapan untuk selalu meng-upgrade diri.

Agree?

Kalau saya sih iya bangeet...

#DiskusiPublikIndustri

#MakingIndonesia4

#Industri4

#Kemenperin

#STTBandung

Rabu, 18 April 2018

Mengais Rejeki di Jalan, Nyawa Taruhannya

Siapa bilang bekerja independen itu paling enak? Iya, enak karena tidak ada yang memberi perintah. Tidak sebagai bawahan, tidak juga sebagai atasan. Semua tugas dilakukan sendiri dengan tanpa batasan waktu. Kecuali target.

Siapa bilang menjadi self employee itu menyenangkan? Iya, menyenangkan jika bisa mengatur waktu dan pendapatan sesuai target, bahkan kalau perlu melampaui. Itulah nikmatnya bekerja sendiri. Hasilnya pun akan dinikmati sendiri.

Menjadi supir taksi online atau ojek online adalah salah satu profesi yang beberapa tahun terakhir ini menjadi pilihan yang paling dicari. Bukan hanya pengangguran, bahkan para pegawai setingkat manajer pun ikut tergiur. Mereka percaya, profesi ini sanggup memberikan lebih banyak penghasilan dibandingkan gaji kantoran.

Mungkin saja benar. Apalagi pada tahun-tahun awal perkembangannya. Permintaan di lapangan jauh lebih besar dibandingkan unit yang tersedia. Dengan kata lain, supir transportasi online tidak pernah kehabisan order. Penghasilan mereka bisa mencapai 2-3 kali gaji pegawai kantoran. Sungguh menggiurkan memang.

Tapi, tahukah bahwa resiko di jalanan pun tidak sedikit. Bahkan, nyawa menjadi taruhannya. Apa saja resikonya?

*Waktu Istirahat Yang Kurang Diperhatikan*

Asik dengan kesibukan memenuhi permintaan trip dari penumpang, seringkali membuat supir lupa pada waktu istirahat. Tubuh yang lelah diabaikan demi mencapai target penghasilan

*Resiko dari Kejahatan*

Pada setiap situasi, peluang kejahatan memang selalu ada. Namun, berada di jalanan terutama malam hari, membuat supir transportasi online menjadi lebih sarat resiko mengalami kejahatan. Beberapa kasus bahkan menunjukkan adanya usaha perampokan hingga pembunuhan oleh sang pelaku. Oleh karena itu, kewaspadaan sangat diperlukan.

Itulah kenapa memiliki komunitas atau grup sesama supir sangat diperlukan. Dengan komunikasi dan saling bertukar informasi bisa mengeliminasi resiko adanya kejahatan yang ekstrim.

*Bentrok Dengan Sesama Supir Transportasi Non-Online*

Hal ini seperti masalah sepele. Hanya karena dianggap mengambil jatah penumpang di suatu wilayah, seringkali harus bersitegang dengan supir angkot atau ojek pangkalan. Bahkan, tak sedikit cerita pemukulan dan pertumpahan fisik di antara mereka. Sungguh miris. Sama-sama mencari rejeki untuk keluarga, tapi kenapa harus sampai hilang akal.

Apakah karena pemahaman yang kurang ataukah memang perlu sosialisasi tentang hal ini kepada masyarakat? Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap situasi yang tidak aman ini? Yang kami tahu, masyarakat pengguna pun jadi merasa tidak nyaman.

Kalau sudah tahu resiko ini, kira-kira masih berani untuk jadi pejuang aspal di jalanan? Don't worry ya, berusaha untuk selalu mengikuti aturan dan waspada, itu yang penting. Selebihnya, kita berserah diri pada Sang Maha Kuasa.

Selamat bertugas buat para pejuang keluarga. Tetap semangat...

#salamsatuaspal

Rabu, 22 November 2017

Implementasi U-nik, Asal Jangan Bikin Panik

Ini memang bukan bicara tentang pacar apalagi jodoh. Kan, katanya kalau cari pasangan itu jangan yang pasaran. Harus unik biar mudah dikenali. Tapi, kalau terus suka bikin panik karena saking uniknya, repot juga ya. Makanya, mending yang wajar-wajar saja ya. Yang penting pas. Pas lagi dibutuhkan pas lagi ada. 

Persis seperti unik yang kali ini ingin saya bicarakan. Unik yang dimaksud adalah uang elektronik.
Jaman dulu kita mengenal istilah 'barter', yaitu saling bertukar barang yang dibutuhkan. Biasanya akan berkumpul di pasar pada hari tertentu yang sudah disepakati sebagai hari transaksi. Makanya, kita mengenal ada pasar Senin sampai dengan pasar Minggu. 

Bergeser dengan waktu, ditemukanlah mata uang sebagai alat tukar yang memudahkan manusia bertransaksi. Bahkan saat ini atau istilah gaulnya 'jaman now', kita juga masih dikuasai dengan mata uang, baik logam maupun kertas. Seperti halnya mengubah kebiasaan 'barter' menjadi berbelanja dengan uang, perubahan kultur memang bukanlah hal yang mudah dilaksanakan. Begitu menurut Firman Turmantara dari HLKI (Himpunan Lembaga Perlindungan Konsumen Indonesia), pada Seminar "Implementasi Era Nontunai bagi Masyarakat maupun Pelaku Usaha" yang diselenggarakan pada tanggal 20 November 2017 kemaren di Bandung. Padahal pada kenyataannya, termasuk di Indonesia, sudah cukup lama juga mulai bermunculan pengganti mata uang ini, seperti kartu debit dari tabungan, kartu kredit, dan yang sekarang sedang banyak dicanangkan yaitu e-money alias u-nik (uang elektronik). 

Sebagai bank penyelenggara u-nik yang terdepan di Indonesia dengan istilah e-money, Bank Mandiri yang diwakili mbak Diah, bahkan mengeluarkan beberapa model kartu bergambar yang menarik, menyesuaikan dengan kondisi kekinian (saat ini yang diluncurkan adalah seri Justice Leagae, film teranyar yang sedang beredar di bioskop). Tentu saja tujuannya adalah supaya masyarakat semakin 'aware' atau menyadari adanya alat pembayaran baru yang tak ubahnya seperti uang di dompet dalam bentuk kartu. 

Supaya kesadaran masyarakat lebih cepat, bekerja sama dengan industri retail adalah sosialisasi yang efektif. Bahkan pak Henry Hendarto, sebagai sekretaris Aprindo (Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia) Jawa Barat menyampaikan manfaat positif dari e-money ini, yaitu selain lebih aman (tidak tercecer), akan lebih mempercepat transaksi, dan tentu saja dapat menekan kecurangan dalam transaksi (lebih akurat). Sehingga, untuk mendukung implementasinya, semua mini market atau supermarket di bawah Aprindo sudah menyediakan pembelian kartu u-nik ini dan top up-nya.

Rektor Universitas Sangga Buana sebagai tempat penyelenggara Seminar, Asep Effendi, yang mewakili pihak akademisi juga mendukung perubahan kultur ini, hanya saja PR besarnya adalah mengubah mind set menjadi pengguna dan pelaksana. Bagaimanakah cara yang paling efektif, harus bisa bercermin dari contoh peluncuran e-toll sebagai salah satu bentuk u-nik yang seolah masih bersifat sistemik dan pemaksaan. Masyarakat kurang keterlibatannya di dalam sosialisasi, sehingga pada saatnya tiba pemberlakuan transaksi di seluruh pintu toll yang terjadi malah banyak kendala (akibatnya antrian mengular di sepanjang pintu tol). Hal ini dikarenakan waktu 'tap' kartu e-toll cukup lama untuk setiap transaksi. Koreksinya adalah, apakah alat 'reader' yang bermasalah atau teknis 'tap' kartu yang memang kurang dipahami pengguna. 


Dari semua rangkaian diskusi ini, muara besarnya akan menjadi PR dari Bank Indonesia. Seperti yang disampaikan bapak Hermawan Yulianto, mulai dari regulasi, perijinan produk, pengawasan, pelaksanaan, hingga pem-fasilitasian pada saat bekerja sama di seluruh bidang. Infrastruktur dan payung hukum harus disiapkan. Jangan sampai maksud baik tapi caranya salah. U-nik yang bikin panik. 

Buat masyarakat tahunya uang elektronik adalah lebih positif, karena lebih praktis. Dompet tidak harus tebal. Tapi setiap kali butuh transaksi selalu ada. Tidak bikin panik, karena untuk membeli kartu atau isi ulang juga mudah diperoleh dan ada dimana-mana. 

Jadi, istilah cari jodoh harus yang berdompet tebal lama-lama akan luntur, berganti dengan 'cari jodoh harus yang unik dan punya banyak u-nik'. Siap-siap deh jadi masyarakat unik.

Senin, 21 Agustus 2017

Profesi di Pengkolan (2)

Adalah namanya Pak Uus Rupen Cikal. Tadi dia anter aku ambil berkas di Polwiltabes sekalian aku anter dia ambil barang pesanan logistik di Toko Ibu Bety. Tapi kali ini aku bukan mau cerita pak Uus ataupun bu Bety... Hehe

Jadi, ceritanya pas perjalanan pulang kita melewati jalan-jalan tikus supaya bisa menghindari macet dan panas terik di Soekarno Hatta (bypass) yang lenglang dan penuh debu. Alhamdulillah punya Go-Uus yang hafal dengan pilihan jalan tembus. Terbebaslah kita dari keruwetan bypass (nuhun nya 😉).

Nah, pas lewat di suatu jalan kecil menembus sawah di kanan kiri, mentoklah kita di pengkolan harus berhenti dulu sebentar karena di depan bakal berpapasan dengan motor "pengangkut sampah". Kelihatan dari jauh si supir kasih kode supaya kita yang maju duluan dan minggirlah dia mepet ke tanah. "Pengemudi yang fair" begitu pikirku karena dia "tahu diri" dengan bawaannya di belakang.

Begitu kita mendekat, baru kelihatan bahwa ternyata supir motor itu seorang wanita. "Wow!" cuma ungkapan itu yang pas untuk mengekspresikan kekaguman aku padanya. Luar biasa hebat. Pilihan profesi yang sangat tidak lazim.

Pertama, dia harus memiliki kemampuan menyetir motor yang benar-benar mumpuni. Karena di belakangnya ada tumpukan beban berat yang harus dibawa-bawa. Keluar masuk jalan besar maupun kecil. Sangat tidak mudah.

Kedua, yang dia bawa-bawa adalah sampah rumah tangga yang baunya tahu sendirilah ya. Sementara sebagai wanita biasanya penampilan adalah nomor satu. Meskipun yang di rumah pun cuma dasteran dan gak dandan. Tapi notabene pastinya pengen tetap menjaga supaya tampilan tetap bersih walau tak harus berparfum juga.

Makanya, sekali lagi aku bukan cuma acungkan dua jempol kalau bisa (mungkin tadi pinjem punya pak Uus sekalian 😂) tapi juga rasa kagum dan penghormatan buat "attitude" nya yang tetap terjaga. Tampilan dan bau yang menempel di badan tak membuat "wonder woman driver" berperilaku asal-asalan.

"Bravo. Kamu luar biasa sist... " 😘😘😘

Semoga Allah selalu lindungi dan berkahi pekerjaanmu. Semoga keluargamu tak lupa menghargai dan bangga pada pilihanmu. Semoga orang-orang di sekitarmu menghormati dan meneladani sikapmu...

Note : sayangnya aku gak sempet ambil foto, jadi tidak ada dokumentasi

Profesi di Pengkolan

Sudah beberapa hari ini ban motor aku yang bocor dan harus ganti ban luar tidak sempat tersentuh (agak repot bin males sedikit hehe...). Rencananya Sabtu besok sekalian libur biar bisa ngebengkel tanpa dikejar waktu.

Tapi jadinya aku dapat banyak hikmah dari beberapa cerita yang aku temui sejak beralih cara berangkat kerja, yang bakal aku urai bersambung di sini.

Yang paling berkesan di hari kedua (setelah Senin akhirnya aku bergangkat naek GrabBike) adalah mengamati "profesi-profesi tak diakui di Disnaker". 

Sambil menunggu teman yang akan menjemput lewat (tuh di foto yg pake mobil putih) aku asik memperhatikan laju lalu lintas di pengkolan jalan Rancabolang (depan SD) yang memang sempit dan berkelok-kelok (letter Z), membuat supir terutama mobil sulit memperkirakan situasi setelah belokan, apakah ada kendaraan atau tidak.  Makanya kalau pagi-pagi banyak pengguna jalan mau berangkat kerja dan sekolah bikin macetnya jadi menggila menyaingi tol cikarang. 😁

Untungya ada si Aa yang dengan sigap mengambil peran seperti Polantas tak berseragam lengkap dengan peluit di mulut. Tanpa ada perintah dari atasan dia segera mengatur lalin dengan metoda "buka tutup". Lincah dan bersemangat, si Aa terlihat sangat menguasai pekerjaannya. Sambil mempersilakan mobil dari arah yang satu untuk terus melintas, tangannya yang satu memberi kode stop untuk kendaraan dari arah yang lain. Tak lupa dia juga menghitung sudah berapa panjang antrian di belakang mobil yang distop.

Yang menakjubkan adalah ketika pengendara dengan sadar mengikuti arahan dari si Aa dan tidak memaksa menerobos. Sehingga laju lalin jadi sangat lancar dan tertib. Tak heran kalau si Aa dapat "lemparan koin" atau "kepalan uang kertas". Mungkin pengguna jalan juga bisa merasakan betul manfaatnya. Tidak asal "cepe dulu" baru bisa lewat seperti di jaman "pak Ogah" dulu.

Kalau sudah begini rasanya aku juga gak bisa begitu saja melewatkan kekaguman ini. Kagum karena ada anak muda yang mungkin tidak punya kerjaan terus berinisiatif. Tidak hanya asal-asalan tapi malah memberi manfaat untuk orang sekitar. Uang yang didapat benar-benar dari hasil keringat. Bravo ya Aa...

Yang lainnya, kagum karena ternyata nilai kepatuhan dan toleransi sebenarnya masih tertanam di hati rakyat Indonesia ini. Meskipun harus tetap ada tangan-tangan yang mengatur. (gak ada polisi selonong boy aja... Gak ada Aa "prit gope" gak tertib 😋). Tapi setidaknya masih mau diatur. Bravo buat bapak-ibu yang tertib lalin...

Berharap dari cerita ini nilai kepatuhan dan toleransi di jalan masih bisa dijaga ya meskipun gak ada si Aa polantas. Atau kalaupun tetap ada kondisi seperti ini jadi gak bete lagi kalau harus merogoh kocek "gope"... Yes? 😉

Jumat, 07 Oktober 2016

Mom’s Best Friend



Memiliki anak lelaki atau perempuan sebenarnya sama saja. Pada kenyataannya, mereka adalah sama-sama anugerah terindah yang diberikan Sang Maha Kuasa untuk diamanahkan kepada kita. Namun, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang anak lelaki sebagai anak sulung. Ada banyak hal yang bisa menjadi keberuntungan dan kelebihan, terutama untuk para Mom ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa karena suatu hal harus hidup sebagai seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi anak-anaknya.

Adalah kepastian bahwa setiap pasangan suami-istri, atau sebagai ayah-ibu, bahwa suatu saat akan terpisahkan oleh sebuah takdir dari Sang Maha Pemiliki Waktu. Namun caranya saja yang berbeda-beda. Beberapa orang dihadapkan pada kenyataan harus kehilangan pasangan karena kematian. Yang mengalami seperti ini mungkin merasa bahwa situasinya sangat menyakitkan, sebab tidak pernah ada kesempatan untuk bisa bertemu lagi. Tapi, bagi yang berpisah karena perceraian pun sebenarnya mengalami hal yang sama, terlepas dari apapun alasan yang mendasari, mereka akan merasa tersakiti berkepanjangan karena pengalaman buruk yang dilewatinya. Bahkan ada juga untuk suatu alasan yang sifatnya hanya sementara, misalnya ditinggal tugas ke tempat yang jauh (ke luar kota atau luar negeri) dalam waktu yang cukup lama. Intinya, semua situasi itu menyisakan kondisi yang hampir sama, ada perasaan sedih dan kehilangan. Pada seorang wanita, situasi ini menjadi cukup signifikan karena secara kodrati memiliki kehalusan perasaan yang lebih dibandingkan laki-laki. Kondisi emosional lebih mendominasi pemikiran rasional. Dalam istilah kekinian, wanita biasanya lebih mudah ‘baper’ (=terbawa perasaan).

Namun, apakah kerena kondisi sedih dan kehilangan tersebut lantas seorang wanita, terutama Mom yang Single Parent, kemudian harus menjadi kehilangan semangat hidup? Sama sekali tidak. Memiliki anak, adalah sebuah situasi yang sangat menguntungkan buat Mom, meskipun bagi yang belum memiliki anak pun tidak berarti juga harus berkecil hati. Intinya, cobalah mengalihkan perasaan sedih dan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan kita selama bertahun-tahun dengan memberikan perhatian yang lebih banyak buat orang-orang yang ada di hadapan kita saat ini. Salah satunya adalah anak-anak kita.

Lalu kenapa di awal saya bercerita kalau memiliki anak laki-laki menjadi keberuntungan tersendiri? Karena kenyataannya itu yang saya alami dan ingin saya bagi sebagai seorang Mom. Perpisahan yang saya alami setelah kurang lebih 15 tahun pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk diputuskan. Mestinya sudah melewati beberapa pertimbangan dan alasan yang kuat menurut versi masing-masing pihak, termasuk melibatkan kemungkinan imbasnya kepada anak. Pada saat keputusan diambil, saya sudah memiliki seorang anak laki-laki yang pada waktu itu berusia 6 tahun. Masih sangat muda memang. Ia masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Bahkan, sedikit atau banyak ia juga sempat mengalami guncangan psikologis. Masih teringat di benak, betapa dari keseharian yang biasanya sangat ceria dan ramai berceloteh, ia berubah menjadi agak pendiam dan seperti menarik diri dari keriuhan dengan teman-teman atau saudara-saudaranya. Tapi itu hanya terjadi sebentar saja. Alhamdulillah. Setiap anak tentu menangkap situasi ini sebagai stimulus dan meresponnya dengan cara yang berbeda-beda. Tentunya ada banyak hal atau faktor yang menyebabkan seperti itu. (Insya allah saya akan sharing tentang hal ini secara khusus dalam artikel yang lain ya)

Singkat cerita, saat ini di usianya yang sudah 11 tahun (sudah kelas 6 SD), ternyata si anak sudah mengalami perubahan yang luar biasa mengejutkan. Boleh dikatakan amazing buat saya sebagai ibunya. Perjalanan berdua selama kurang lebih 5 tahun selalu bersama-sama (meskipun saya pernah 2 tahun bulak-balik Jabodetabek-Bandung) dalam suka dan duka telah membentuknya menjadi laki-laki kecil yang sangat bijaksana. Dia adalah sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Bukan hanya karena dia tulus dan ‘no mudus’ (= tidak ada embel-embel yang diharapkan dari kebaikan yang disampaikan), tetapi karena ternyata dia bisa kita ajak menjadi teman hidup dan bahkan menjadi teman diskusi sekalipun. Ko bisa? Gimana caranya?



Sebenarnya, saya sendiri juga tidak punya formula khusus untuk hal itu. Tapi beberapa referensi baik dari buku ataupun cerita sahabat, dan tentunya pengalaman pribadi yang saya lewati mungkin bisa jadi tambahan pengetahuan buat teman-teman supaya lebih memperhatikan hal-hal berikut:

1.       Pahami psikologis perkembangan anak
Meskipun tidak kuliah di jurusan Psikologis, kita tidak perlu juga harus punya buku-buku tebal tentang hal ini secara khusus. Mencari melalui artikel-artikel sederhana pun sudah sangat membantu dan sangat mudah diperoleh, baik melalui media cetak apalagi melalui internet

2.       Perlakukan dia sebagai seorang manusia utuh dan menghargai keberadaan mereka apa adanya.
Mengkhawatikan kondisi anak memang perlu. Kita sebagai orang tua dituntut untuk bertanggung jawab dan memastikan mereka selalu dalam keadaaan baik-baik saja. Namun memberikan perhatian berlebihan pada anak malah akan membangun rasa “tidak percaya diri”. Mereka merasa tidak dianggap sebagai “seseorang” (=somebody/ subjek) tetapi hanya menjadi “sesuatu” (=something/ objek). Karena itu, menurunkan rasa kuatir yang berlebihan dengan memberikan kepercayaan kepada anak adalah langkah bijak untuk menambah kepercayaan dirinya.

3.      Berikan kebebasan untuk belajar mengambil keputusan
Pada beberapa kasus sederhana, saya juga seringkali memberikan kesempatan pada anak untuk belajar memilih dan memutuskan. Misalnya, sewaktu hari libur pilihan aktivitasnya yang bisa ditawarkan berenang, main ke “timezone” atau makan-makan di restoran favorite. Dengan memberikan kesempatan pada anak sebagai pengambil keputusan, ia bisa belajar banyak. Selain berhitung tentang pengeluaran, ia juga belajar bertanggung jawab dengan pilihannya dan menerima konsekuensi bahwa ia tidak bisa selalu memperoleh yang diinginkan secara langsung atau bersamaan

4.      Tempatkan dia tidak hanya sebagai anak tetapi juga sebagai teman atau partner
Bahkan pada saat menghadapi masalah yang cukup berat pun, saya akhirnya bisa mengajak bicara anak dan menyampaikan berbagai kemungkinan situasi yang dihadapi. Terbiasa mengajak ia diskusi menjadikan ia lebih peka dan lebih cepat memahami masalah. Sehingga kita punya teman berbagi di rumah. 

5.      Percaya bahwa dia mampu melakukan apapun dalam kapasitasnya (sesuai dengan minat dan potensinya)
Tidak terlalu memaksakan kehendak atau keinginan kita di masa lalu yang tidak tercapai kepada anak. Sebab mereka juga membawa harapan dan cita-cita sendiri untuk bisa diwujudkan. Sebaliknya, kita selalu mendorong dan percaya bahwa apapun yang dilakukan mereka hari ini akan menghasilkan yang terbaik buat dirinya di masa depan. Yang terpenting kita selalu mengingatkan mereka agar selalu berada di track yang benar dan tidak melenceng. Selebihnya, biarkan mereka dengan mimpi-mimpi terbaiknya.

6.       Selebihnya, memasrahkan diri dan menyerahkan hidup pada Sang Maha Pemilik
Yang terakhir ini mungkin bersifat sangat abstrak dan bakal kembali kepada masing-masing individu. Tapi paling tidak saya juga hanya ingin mengingatkan, bahwa sekuat apapun kita menginginkan sesuatu hal tapi jika Allah tidak ijinkan maka akan sulit kita raih. Dan sebaliknya, kita juga terkadang tidak pernah bisa menduga yang Allah berikan buat umatNya yang selalu meminta dan berdoa. Yang menjadi bagian kita sebagai orang tua, terutama ibunya tinggal mendoakan supaya anak-anak kita peroleh yang terbaik.

Kalau kita sudah melakukan berbagai hal yang terbaik buat anak-anak kita mestinya kita juga bakal peroleh timbal balik yang setimpal. Insya Allah. Mereka ada untuk menemani kita dalam mengarungi hidup. Kecil bukan berarti ringkih, hanya tubuhnya yang belum optimal berkembang. Polos bukan berarti tanpa kemampuan berpikir, mereka hanya perlu waktu dan kesempatan. So Mom, masih tidak percaya kalau kita ternyata bisa punya Best Friend? Aku sudah punya seorang Best Friend Forever..

(didedikasikan untuk anakku tercinta, Muhammad Atilla Baseer, 11 tahun, kelas 6 SD, terima kasih sudah menadampingi perjalanan “roller coaster” yang terdahsyat sampai hari ini. You are my Best Friend Forever, and please don’t grow up too fast, stay to be my minion, my little sunshine, and my everything. Love you much)

Profil :
Yuke Rachma, seorang ibu dari satu orang anak, HRD Manager & GA di salah satu outsourcing security di Kota Bandung, sebagai praktisi Human Resources sejak tahun 2007.